Puisi-Puisi Joannes Oye de Mello

Joannes Oye de Mello, Alumnus Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY. Pemuda desa. Tinggal di Wedomartani.

Terbanglah Manyarku

: buat Rm Mangun

Mentari menorehkan bayangnya
Saat seraut sembilu terjulur dalam luka
Meranggas di dada, tuk sucikan nurani
Ada suara berseru-seru
Ada perjuangan seru mempertahankan hidup
Menguras teras samudera kedung
Menahan tegaknya code

Jambang putih terikal tergerai
Sayup-sayup samar masih kudengar
“…. bangkitkanlah kebenaran
….. serukanlah kembali …. ”

Suara terbang bersama manyar
Merantau melanglang tanpa ingat diri
Menguntai kata; jadi fakta

Ya,
terbanglah manyarku: Jangan pulang
tetaplah bersama puntung-puntung dalam
kardus-kardus di tepian membelai lolong-
an menyayat minta tolong

pergilah ke rantau
kan kuuntit kamu,
‘tuk jadikan satu bentuk!

Palembang, 1992.

 

Selamat Jalan Manyarku

— sekali lagi: untuk pakde mangun 🙂

Pejuang mati di padang kurusetra perang dan musafir mengakhiri ajalnya di padang pasir pengembaraan. Detik-detik akhir hidup petualang, di puncak ketinggian. Jalanan merah oleh darah demonstran. Seorang bapak bangsa, mengakhiri hidupnya dalam suasana biasa, di sekeliling para sahabat. Ia telah turun dari mimbar tanah air. Tempat petuah, makna, dan butir-butir kehidupan mengalir dan tak pernah berhenti.

Hari ini burung manyar itu terbang
merantau ke dunia keabadian
melanglang buana ke ruang dan waktu yang tidak terbatas

Ia tinggalkan warisan nilai dan catatan sejarah
Memasuki dunia yang serba baru

Jogja, 12 Februari 1999; 01.35

 

Satu, Keyakinan

: untuk generasiku

Engkau, adalah tonggak sejarah yang dipangkas: kerdil
Tertancap pada tanah liat kenyataan yang kering, keras, pelik
dibiarkan begitu saja, hidup atau mati!

Kau, mata-titik tumbuh, dalam keyakinan-sikap siap meretas
Menghijaukan padang pasir tanah lapang realitas dan mimpi
tentang hari esok
bersemi, sebagai generasi yang terlibat dan memandang

Di depan sana, sejuta massa bangkit menahan amarah
Tentang terbunuhnya sisa-sisa sebuah sisi kemanusiaan: mati!
terbujur begitu saja, seperti bangkai kayu yang digilas dan ditendang
oleh siapa saja, sia-sia
tak dianggap sebagai manusia: percuma!

Kita, adalah angkatan yang gemetar, miris
di depan sana: hari esok menjerit-menahan tangis
saling tawur, baku-tarung, atas nama harga diri
hak asasi, dan daulat rakyat

Hari ini, kita menegaskan berada di pihak mereka:
Memimpin perubahan:
REVOLUSI
Atau MATI!

28 Februari 1999, 22.35

 

Kuliah Hidup

: saat aku memperoleh kekuatan kembali,
dari oase air mata harapan dan motivasi

Tak ada yang salah,
Kecuali sebuah pertanyaan

Ada apa di balik semua ini

Tak ada yang salah
Kecuali setumpuk gugatan

Kalau kekalutan itu menghempas.
Kalau bunga kertas itu kemudian seputih salju
Kalau daun itu terbang ke angkasa surga
: SALAHKAH

Justru kebenaran itu
Saat aku menggenggam harapan:
Ada yang sangat indah di sana,
Ada kesejatian di situ
Kendati berat. Pahit. Sakit.
Tak berhenti mendera

Pagi ini aku menegaskan harapanku kembali:
“Pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban.”
Inilah KULIAH HIDUP

(yang skripsinya justru tidak akan pernah selesai)

Senin pagi, 21 Desember 1998

Puisi-Puisi Agustinus Wahyono

Agustinus Wahyono. Alumnus Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UAJY angkatan 1991. Aktif di MMT SIGMA dan SKM PASTI. berdomisili di Balikpapan, Kalimantan Timur

Anak-anak Panah

Anak-anak panah dalam tabung
Di punggung sang pemanah
Akan dilesakkan

#1
Yang mengena lutut matahari
Lepas jatuh kembali dekat pemanah

#2
Yang menancap ke bahu bulan
Gelap membawanya pergi

#3
Yang tidak keluar tabung
Menggores punggung pemanah

Panggung Renung, 2015

Kita

kita pernah berselisih angka kata
pada tiga tiang api Babarsari
membakar rumus-rumus teori-teori
di bawah nyala lampu taman

bukankah buku-buku adalah dosen bayangan?

kita pernah berselisih kepala tangan
berteriak bersama rumput-rumput
— jangan sampai batu-batu berteriak —
kepada tiang-tiang atap-atap
karena rekening di warung bikin pening

bukankah warung adalah yayasan bayangan?

kita pernah berselisih ruang waktu
suntuk menekuri dalil-dalil
seperti pahlawan kepagian
mencari musuh tanpa senjata

bukankah proses adalah ujian bayangan?

kini kita pun masih berselisih
dan akan terus berselisih
melampaui segala perih nyeri
dengan putaran matahari

bukankah hasil adalah selisih bayangan?

Panggung Renung, 2015

Terjebak Kata-Kata di Basement

garis lurus lengkung kutarik dari
pensil rapido di lantai empat
meninggalkan nafas-nafas di bangku-bangku
menuruni tangga tengah menuju
basement
marak kata depan beton-beton

dengan rupa dasar Silvester A. Kodhi
aku memiuhkan gambar teknik di
basement
menjadi andeng-andeng Kusumadmo
menjewerku naik ke lantai tiga
sampai laporan pertanggungjawaban
menghitam di kertas kalkir

pensil rapido tidak bisa bicara
pada hitam kalkir
maka kata-kata mengambil alih suara
basement

dengan perintah ojon
kata-kata mengalir ke dalam disket
tentang tawa pada diri sendiri
tentang studio pindah ke
basement

ojon mengajakku tertawa
dalam kata-kata seperti air bah
memenuhi seisi basement
dari kantin hingga dapur
dari Babarsari hingga Mrican
lupa pada garis lurus lengkung
lupa pada nafas-nafas berkeringat
di Gunung Kidul menjemput toga
sebelum tiba di Gunung Bromo

letih meladeni ojon
aku beranjak dari basement
menuju lantai dua
membaca nafas-nafas memakai toga
memukul kepalaku

“kembalilah ke garis tanganmu
sebelum Djarot Purbadi
jadi rektor!”

Panggung Renung, 2015

Puisi-Puisi Cyprianus Bitin Berek

Cyprianus Bitin Berek. Alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UAJY angkatan 1991. Tingggal di Betun, Timor.

Perjumpaan Siang di Sumur Yakub

 – Perempuan Samaria

Di terik siang lelaki asing itu berkata,
“Akulah air hidup!
Dahaga tak kan lagi, bagi yang minum dariKu.”
Takjub dan heran aku. Betapa  bisa kupercaya
pada lelaki keletihan yang sekejap lalu
padaku meminta air. Sedang timba Dia tak punya
dan sumur alangkah dalamnya.

Dia bercerita bagai dunia impian.
Tentang hal tak kumengerti
tapi serasa akrab; karunia ilahi.
“Air ini fana dan kau selalu haus lagi.
Tapi benih air dariKu memuaskan dahaga selamanya.
Lalu akan terlahir mata air dalam dirimu
memancar sampai kekal.”

Duhai, penasaran aku. Tergiur air ajaib
kutantang juga Dia, “Baik, beri dulu aku dahaga,
biar dapat kuminum airMu.
Sebab letih aku terus menimba.”

Menatapku lembut Dia berkata,
“Alangkah dahaga rohmu. Buka hatimu
agar padamu tinggal RohKu.”
Lalu bagai kelopak bunga karang kering
kuhisap air dari tiap percik sabdaNya.

Bertahun terlewat sudah.
Air itu membenihiku,  mewujud mata air
tumbuh di jantung, mengaliri sekujur tubuh.
Bercabang ia ribuan anak sungai
dan ditimba para musafir tersesat.

Kadang di senyap malam
kudengar berbual-bual air di hatiku
gemercik riuh beragam cerita. Maka
mulai kupahami dan kian tak asing:
Air yang menabur gita sorgawi
agar sujud aku di pekat malam
menyembah dalam mazmur
renungkan kasihNya.

Tak lagi perempuan kehausan aku,
nista dan terhina selalu
berganti lelaki tanpa lelah.
Aku kaya kini, tapi bukan harta.
Tak lagi perlu kubunuh hausku
pada dekap sembarang lelaki
karena dalam diriku
tumbuh sudah mata air kekal.

Makassar, Oktober-Desember 2013

Azazel  (1)

Kita adalah kembar yang gemetar di muka imam agung sebelum akhirnya berbeda
nasib.  Kita hanya dua kambing jantan. Sehat, cacat tak ada. Terbaik dari segala
kambing Israel, terpilih  untuk tumbal hanya. Kita yang menangis diam-diam usai
pupus segala degup bangga, lantas sadar akan kesudahan takdir.

“Mana sebenarnya yang terbaik antara undian bagi Tuhan dan Azazel?” kau coba
bergumam, memecah sepi yang buntu.  “Tak ada, Azazel pun sebenarnya mayat
belaka berbalut kehidupan. Terbuang ke runcing sepi,” kujawab bagai igauan.
Gamang.

Undian sudah dijatuhkan depan pintu Kemah Pertemuan, di hadapan Allah yang
konon murka: Kau korban bagi Allah, aku Azazel. Maka menetes air di matamu,
sesaat sebelum padam usiamu. Sedangkan aku, kelak menempuh hari berduri.
Memanjang ke kaki cakrawala.

25-05-2014

Azazel (2)

Siang  membara bagai tembaga. Mezbah akasia pun warna tembaga. Di halaman
kemah suci, hiruk orang memindahkan dosa setahun ke ubun-ubun kita.  Tembaga!
Tembaga! Penghukuman dan murka! Tembaga! Tembaga! Harus ada korban
pengganti!

Gemetarkah engkau, atau belum jua paham akan nasibmu, saudaraku?

Di wajahmu ngungun angin yang amis menggenang beku, sebelum sebilah belati
dengan mata licik dan jahat mengalirkan darahmu –  getah karet paling subur. “Darah
itu menyimpan nyawa,” seseorang berbisik bagai doa. “Dan tiada tebusan tanpa
curahan darah,” seseorang seperti menyahut. “Dosa yang laknat beralih sudah ke ruang paling kudus melalui darah,” ujar yang lain. Kau tak lagi dengar. Selain erang
darahmu berjuang padamkan api – murka Bapa.

25-05-2014

Azazel (3)

Tapi padaku belati tak sayat. Dingin telapak imam agung tangkupi kepala: “Ya
Allah, selalu tak berhingga dosa kami dan hukuman itu tak kuat kami tanggung.
Maka segala dosa dunia, kami timpakan ke atas kambing ini.” Maka, mataku sontak
menggelap.

Aku Azazel. Hanya seekor kambing. Aku hitam, tapi bukan saja kulitku.  Aku hitam
karena padaku ditimpa segala dosa dan sial bangsa ini. Di punggungku beban najis
tak terbatas. Terbuang ke gurun, tandus dan asing. Bau jejak kaki pun sembunyikan
diri. Tersesat aku, terhilang selamanya. Teman tak ada.

Di mana engkau, Bapa?

Laknat dosa, laknat dosa! Alangkah pahit di pangkal lidah!
Di  kecamuk pilu murka Bapa, di celah gemertak tulangmu dalam terik api mezbah
tembaga,
seperti masih kudengar suaramu tercekat dari tenggorokan yang kulai.

25-05-2014

Azazel (4)

Kita kembar paling malang yang terus terulang, sepasang demi sepasang diundi
untuk mati atau terhilang, seperti kita hari ini, hari Yom Kippur, saat manusia
berdamai dengan Allah. Selalu, korban demi korban. Seperti kita, tumbal kutuk dosa,
perlambang yang tak kita mengerti
dari rahasia paling agung. Engkau terbunuh dan aku Azazel – domba terhilang–
gambar kesepian Allah, terasing dari kasihNya sendiri. Jalan pulang tak ada. Hanya
rindu kian pelan membuncah sebelum akhirnya tersia-sia.

Mengapa perlu dua korban untuk satu perlambang, dari dosa yang tak kami lakukan?

Kelak terulang selalu hingga tiba saatnya terhenti semua korban tatkala meregang
nyawa Dia Yang Diurapi,  pada – sesuai nubuatan – setengah dari tujuh masa itu. Ya,
segala akan berakhir dan sempurna, sayang. Segala. Tatkala mati raja terjanji, bukan
dikorbankan, tapi menyerahkan diri dengan berani kendati tak ada dosanya.

25-05-2014

*) Pada Hari Raya Pendamaian antara manusia dan Tuhan (Yom Kippur), umat Israel memilih dua kambing. Seekor dikorbankan dan seekor lagi dibuang di padang gurun. Azazel berarti kambing yang dibuang.

Refleksi dan Testimoni Alumni UAJY

Mempengaruhi dan Membentuk

Yusup Erwin S Situmorang, Alumnus Fakultas Hukum 2003, Pengacara di Tangerang.

Sebagai alumnus yang pernah mencicipi kuliah di UAJY, semua alumnus akan sepakat jika UAJY sangat besar dalam mempengaruhi dan membentuk masing-masing pribadi.

Semasa kuliah di FH UAJY saya aktif berorganisasi di BEM dan Partai Kampus. Hal ini sangat besar mempengaruhi dan membentuk kepribadian saya. Selain itu, para pengajarnya juga tidak kalah dengan universitas-universitas lain yang memiliki pengetahuan di bidang masing-masing yaitu seputar ilmu hukum.

Masih segar dalam ingatan saya motto dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta yaitu melayani dalam cahaya kebenaran (Serviens in lumine veritatis). Motto ini juga saya terapkan dalam diri saya dan kantor hukum saya dalam melayani setiap klien yang menggunakan jasa hukum saya.

Di samping itu, jaringan sesama alumni khususnya satu angkatan tetap terbina. Tak jarang, kami sesama angkatan melakukan pertemuan kecil-kecilan baik sebatas makan bersama ataupun membahas perkara-perkara ringan yang terjadi dalam dalam kehidupan sehari-hari.

Saya berharap semoga seluruh alumni Universitas Atma Jaya Yogyakarta dapat tetap menjalin komunikasi dan memberikan sumbangsih kepada Universitas Atama Jaya Yogyakarta baik pemikiran atapun sebagainya.

Integritas

G Winsen Setiawan, Alumnus FTI 1998, Managing Director PT D&W International

Saya masih ingat waktu kuliah dulu ada teman saya yang juga asisten dosen ketahuan mencontek saat ujian semester. Saat itu juga teman saya langsung dinonaktifkan sebagai asisten dosen dan ujiannya digugurkan.

Tegas, Taat aturan dan Berintegritas. Tiga nilai ini yang diajarkan UAJY kepada saya. Hal dasar ini yang menjadi pembeda UAJY dengan kampus lain. Ketika kampus lain berlomba-lomba dengan keunggulan akademik dan kemegahan bangunan, UAJY memilih mendidik keunggulan dalam membentuk karakter mental manusia yang Berintegritas.

Hal ini juga yang membentuk karakter pribadi saya sebagai pengusaha. Karena pada akhirnya intelektualitas bukan hal utama untuk memenangi persaingan, tetapi integritas lah yang akan menentukan.

Menghilangkan Sekat

Dea, Alumna Biologi 1995

Awal kuliah rasanya skeptis pas melihat parkiran kampus yang selalu penuh motor dan mobil itu. Apa bisa aku bergaul di sini? Ternyata Atma Jaya Yogya sangat merangkul. Sekat demi sekat terbuka di sini. Kami merasa seperti keluarga. Kepercayaan diri terbentuk, dan inilah modal utama untuk melangkah. Terimakasih. Semoga tetep guyub!

Tidak Kebetulan

Twin Yoshua R.D. Alumnus T. Industri 2007, Medical Representatif

Menjadi alumni mahasiswa PSSB UAJY merupakan salah satu perjalanan saya menuntut ilmu yang mengesankan.  Saya sangat bersyukur tahun 2007 silam, ketika saya hendak mengundurkan diri sebagai calon mahasiswa UAJY karena diterima di salah satu universitas negeri di Semarang, niat saya tersebut dicegah oleh petugas admisi.

Ternyata petugas yang saya percaya tidak kebetulan melayani saya tersebut juga mahasiwa PSSB, sehingga beliau waktu itu menjelaskan apa saja yang akan diterima sebagai mahasiwa PSSB, yang membuat saya mantap untuk tidak jadi mengundurkan diri.

Selama kuliah banyak kesempatan yang saya dapatkan untuk mengembangkan hard skill maupun soft skill. Salah satu pengalaman organisasi saya di UAJY adalah sebagai salah satu anggota tim di Kantor Kerjasama dan Promosi yang telah memberikan pengalaman berharga bagi saya dalam mengembangkan skill presentasi dan promosi, dan ternyata telah menjadi latihan saya untuk dipakai di pekerjaan saya saat ini (medical representative sebuah perusahaan farmasi Jerman).

Prodi Teknik Industri UAJY juga telah mengantarkan saya untuk saat ini mendapatkan beasiswa Program Master Teknik Industri di salah satu universitas di Taiwan. Hal ini tidak terlepas dari jasa Pak Baju Bawono dan Bu Ririn, Dosen Teknik Industri, yang bersedia memberikan rekomendasi kepada universitas tersebut agar saya dapat dipertimbangkan untuk diterima.

Sungguh pengalaman yang tidak akan saya lupakan menjadi bagian dalam keluarga Besar UAJY. Terima kasih UAJY.

Koreksi

Nerma Novianti, Alumna Fakultas Hukum 2004, Notaris di Kantor Notaris Nerma Novianti

Saat semester tiga, seperti biasa saya sebagai adik kelas bercerita dengan kakak-kakak kelas mengenai dosen-dosen, baik dosen killer, dosen gaul, dosen baik. Salah satunya saya diceritakan mengenai salah satu dosen killer. Dikatakan,”Susah tuh, dosennya. Agak sedikit bawel kalau di kelas.”

Mata kuliah tersebut ditawarkan di semester lima dan saya mencoba mengambil mata kuliah tersebut di semester tiga atau empat. Saya ingin membuktikan kata-kata kakak kelas saya itu. Saya bersikap sopan-santun terhadap dosen tersebut dan beliau pun tidak bersikap seperti yang dikatakan oleh kakak kelas saya.

Dengan bangga saya bisa mendapatkan nilai A untuk mata kuliah yang diampu pak dosen killer (sementara banyak yang mengatakan dosen tersebut pelit untuk memberikan nilai). Saya hanya ingin memberikan pelajaran apa yang kita dengar dari orang lain belum tentu benar sebelum kita membuktikannya sendiri.

Kedua, waktu saya mengikuti kuliah Pak Untung, beliau menceritakan seseorang yang kena tilang polisi karena tidak membawa helm, padahal yang diceritakan orang tersebut sedang membawa helm tetapi tidak dipakai. Waktu itu saya mengoreksi kata-kata Pak Untung dan saya memberikan interupsi.

Cerita lain tentang Pak Untung, waktu itu saya mengambil mata kuliah Ekonomi Pembangunan Indonesia dan Pak Untung mengatakan kurang tepat tentang rumusan Pasal 6 UUPA. Karena saya hapal betul dengan isi pasal tersebut, maka saya mengoreksi kekurangtepatan isi pasal yang disampaikan.

Makna dari cerita saya tersebut, bahwa kita dan dosen sama-sama dalam proses pembelajaran. Apabila dosen salah, kita juga boleh dan wajib memberikan koreksi/masukan. Bukan karena dosen lalu kita memiliki batasan bahwa kita harus takut. Kita tetap harus menghormati beliau sebagai orang yang dituakan bukan menghormati beliau karena statusnya sebagai dosen. Semoga hubungan antara dosen, mahasiswa dan alumni bisa terjalin dengan baik. Jayalah Atma Jayaku.

Mampir Ngombe

Anggisesa Jalulaga Alumnus  T. Informatika 2003, Senior IT Manager Bank Mandiri

Pernah mencicipi perkuliahan di UAJY dengan segala isi, pengajaran, dan fasilitasnya adalah pengalaman dan bagian hidup yang tidak ingin dilupakan. Banyak hal yang dapat saya jadikan bekal dalam mempersiapkan diri di dunia kerja dan usaha, mulai dari kegiatan akademis sampai organisasi kemahasiswaan.

Dengan berbekal profil dosen, fasilitas, dan kurikulum yang baik, saya yakin, ke depan UAJY akan tetap menjadi tempat mampir ngombe yang tepat bagi calon-calon pejuang yang tangguh, terutama pada bidang Information Technology (IT).***

Leadership by Walking Around

Oleh Wirawan Radianto FE Akuntansi 1990 Dosen Universitas Ciputra Surabaya

Life is a matter of giving and making difference.

anakatma.id – Dua puluh tahun lalu saya menyelesaikan studi saya di UAJY. Lahir di Yogyakarta dan besar di Sunda (Sukabumi dan Bogor) lalu kembali lagi ke Yogyakarta tahun 1990. Pengalaman kuliah tidak mungkin dilupakan, karena selama lima tahun itulah ‘hidup’ saya terbentuk. Kuliah sambil bekerja, kuliah sambil pacaran dengan dana pas-pasan, kuliah sambil ‘berpuasa’ karena bulanan tidak selalu mencukupi, kuliah sambil mengajar Lotus dan Wordstar dengan gaji Rp 20.000, kuliah sambil menerima pengetikan, dan yang pasti kuliah sambil menikmati kota Jogja yang begitu menginspirasi. No regret!

Melalui proses panjang dalam kehidupan saya, saya merasakan bagaimana proses leadership merupakan aspek yang sangat penting bagi karir saya. Mulai sejak menjadi junior akuntan sampai manajer toko di salah satu toko di Malioboro sejak saya kuliah—saat itu tidak jelas apakah saya kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah—lalu menjadi dosen kemudian menjadi Ketua Program Studi Akuntansi sampai wakil dekan di salah satu PTS Yogyakarta, anggota tim sampai project leader berbagai proyek dari Jogja hingga Aceh—saya aktif di LSM—, staf ahli salah satu BPR milik pemerintah daerah, sampai berwirausaha membuka warung makan dan catering dengan istri saya, hingga saat ini saya menjadi dekan dan entah besok apa lagi. Pengalaman saya masih sangat sedikit dibandingkan dengan banyak orang. Meski sedikit tapi saya ingin berbagi karena UAJY adalah bagian dari kehidupan saya yang tidak pernah saya lupakan—termasuk menemukan istri.

Tulisan ini adalah refleksi dari pengalaman kuliah di jurusan Akuntansi UAJY (19901995) yang ternyata memberi dampak besar bagi kehidupan saya. Tulisan ini terinspirasi dari seorang kolega saya yang mengatakan: “Boleh saya bilang gaya leadership Pak Wir ini adalah Leadership by walking around”.

Kegagalan: Jembatan Emas Kehidupan

Satu hal yang seringkali ditakuti manusia adalah kegagalan. Namun demikian kegagalan tidak pernah pergi dari kehidupan setiap orang. Karena itu kita harus selalu siap dengan kegagalan, namun demikian jangan kegagalan itu menjadi sahabat karena kalau kita bersahabat dengan kegagalan maka pastilah hidup kita selalu ‘ditemani’ oleh kegagalan.

Saya alumni Jurusan Akuntansi UAJY tahun 1990. Saat itu Jurusan Akuntansi masih dua kelas, masih dibagi kelas ganjil dan kelas genap, masih akrab satu dengan yang lainnya bahkan sampai saat ini saya masih ingat teman-teman saya. For some reasons it was a great class!

Kira-kira satu tahun berikutnya, saya diajak Christian Prasetya menjadi salah satu anggota BEM. Saat itu saya tertarik karena ingin tahu bagaimana bergorganisasi di universitas. Sejak SMP sampai SMA selalu berorganisasi bahkan di SMP saya menjadi ketua OSIS. Setelah bergabung beberapa waktu, ternyata saya merasa ‘tidak pas’ untuk bergorganisasi saat itu. Saya merasa tidak bisa bergaul dengan baik, saya merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka, merasa tidak cocok dengan programnya.

Alhasil saya tidak melakukan tugas apapun yang signifikan, saya hanya ‘penggembira’ bahkan ketika ada acara besar saya tidak ikut bekerja. Saya merasa gagal saat itu, beberapa teman mencibir saya. Apa boleh buat, saya harus menerima kondisi tersebut dengan rasa malu. Pengalaman tersebut begitu membekas di hati saya karena begitu menyakitkan. Sejak saat itu saya tidak mau lagi berorganisasi apalagi menjadi pemimpin. What a bad experience!

Waktu terus berjalan dan saat ada retret dengan Jurusan Arsitektur, entah bagaimana kami dapat berinteraksi dengan luar biasa, sehingga setelah retret berakhir kami masih sering bertemu bahkan mendirikan persekutuan yang diberi nama PPMK Kasih. Tanpa disadari proses tersebut membawa saya belajar lagi berorganisasi.

Banyak kegiatan yang kami lakukan sampai kami pernah mendukung pembangunan sebuah gereja di Sragen. Luar biasa! Waktu pun berlalu dan akhirnya kami berkarir, menikah, pindah kota, fokus pada pekerjaan masing-masing namun beberapa di antara kami masih saling berhubungan sampai saat ini lewat Whatsapp.

Saya merenungkan kegagalan saya di BEM. Apakah salah rekan-rekan saya? Jawabannya TIDAK. Kesalahan ada pada saya. Kenapa? Karena saya tidak memberikan diri saya untuk belajar mengenal mereka, saya tidak memberikan telinga saya untuk mendengar mereka, saya tidak memberikan mata saya untuk memperhatikan mereka. Saya tidak belajar. Saya tidak belajar. Sekali lagi saya tidak belajar!

Ketika di PPMK Kasih mengapa saya begitu menikmati kebersamaan tersebut? Karena saya memberikan diri saya untuk dikenal dan mengenal mer eka, saya belajar mengenal sahabat-sahabat saya. Itulah perbedaannya dan itulah ‘KLIK’ buat saya untuk melihat bahwa kegagalan adalah ‘jembatan emas’.

Kegagalan adalah jembatan untuk kita terus maju, menghubungkan masa lalu dan masa depan. Emas yang berkualitas adalah emas yang ditempa oleh panas. Selama kita berjalan melalui jembatan emas maka kita sebenarnya ditempa oleh panas, kesulitan, hambatan, keterpurukan, penyesalan dan KEGAGALAN.

Ketika kita berhasil melewati jembatan tersebut maka apakah kita pasti berhasil? Belum tentu. Mungkin ada jembatan emas lain yang menanti kita. Satu hal yang kita yakini: semua jembatan emas tersebut akan mengasah karakter kita makin hari makin baik.

Saat ini saya dipercaya sebagai Dekan Fakultas Manajemen dan Bisnis di Universitas Ciputra Surabaya. Universitas baru tetapi punya visi yang besar, visi yang berbeda, visi untuk membangun Indonesia melalui entrepreneurship.

Sampai saat ini saya masih ingat kegagalan saya di BEM FE UAJY dan masa menyenangkan di PPMK Kasih. Itulah yang saya rasa sebagai ‘klik’ buat untuk terus maju pantang mundur. Setiap orang punya ‘klik’ tertentu untuk mengubah hidupnya, demikian juga dengan saya.

Pemimpin adalah Memberi Perhatian

Temuan saya di lapangan sangat menarik. Hampir seluruh informan menyatakan bahwa mereka termotivasi dengan penghargaan. Penghargaan yang bagaimana? Ternyata bukan insentif, bukan bonus, bukan finansial. Ternyata perhatian adalah penghargaan buat mereka.

Memberikan perhatian adalah ‘membayar harga’, artinya memberikan apa yang kita miliki untuk orang lain. Waktu dan tenaga adalah dua hal yang pasti kita miliki. Pertanyaannya apakah kita mau memberikan hal tersebut pada orang lain?

Anda harus berjalan-jalan menyapa rekan-rekan yang anda pimpin dan tentunya hal itu akan menyita waktu dan tenaga anda. Tanyakan kabar mereka hari ini, tanyakan bagaimana keluarga mereka, tanyakan kesehatan mereka terutama bagi yang baru sembuh dari sakit. Tanyakan dan tanyakan. Berkeliling dan berkeliling. Bertemulah dengan kolega dan rekan-rekan anda. Saya sangat senang bisa berkeliling untuk menyapa rekan-rekan saya. Entah kenapa saya tidak tahu. Yang pasti saat bertemu, menyapa, menanyakan kabar, ngobrol sambil berdiri di selasar dan di pintu kantor sangat menyenangkan saya. Hal itu membuat adrenalin saya bekerja dan itu membuat saya bahagia.

Tentu Anda sangat memahami bahwa sangat sulit bagi ‘anak buah’ untuk menghadap anda! Ada rasa takut, kuatir, tidak enak dan beribu-ribu perasaan campur aduk ketika mereka ingin bertemu Anda hanya untuk curhat. Karena itu Andalah yang harus ‘turun gunung’ menyapa mereka.

Hai pemimpin, jangan hanya bertapa di gunung saja karena permasalahan bukan di gunung tapi di bawah. Anda tentu tahu curhat kolega dan rekan Anda sebenarnya sangat berharga. Ketika ada kolega atau rekan yang bisa curhat artinya mereka percaya dengan Anda. Jangan sia-siakan hal tersebut karena hanya orang yang dekat yang bisa curhat dan biasanya mereka mengungkapkan apa adanya.

Informasi itulah yang sangat berharga bagi seorang pemimpin untuk mengelola organisasinya. Semakin anda berinteraksi dengan kolega maka semakin Anda paham permasalahan yang terjadi dan mampu untuk mengatasinya. Anda nanti akan seperti cenayang yang tahu apapun yang terjadi di organisasi Anda. Kuncinya, Anda mesti memberikan waktu, tenaga, dan yang terpenting berikan hati Anda untuk mereka.

Setahun yang lalu saya melakukan penelitian mengenai pengendalian manajemen— topik Akuntansi yang paling saya suka. Temuan saya di lapangan sangat menarik. Hampir seluruh informan menyatakan bahwa mereka termotivasi dengan penghargaan. Penghargaan yang bagaimana? Ternyata bukan insentif, bukan bonus, bukan finansial. Ternyata perhatian adalah penghargaan buat mereka. Tidak terlalu sulit bukan?

Saya ingat maha guru kepemimpinan John Maxwell menyatakan bahwa “Gunakan golden rule sebagai etika seorang pemimpin.” Apa itu golden rule? Singkat saja ini ilustrasinya: anda jangan mencubit kalau tidak mau dicubit, anda jangan memukul kalau tidak mau dipukul. Artinya perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan.

Penghargaan adalah ‘harga mati’ bagi setiap manusia karena penghargaan ternyata adalah kebutuhan manusia. Jangan hanya memperhatikan kepentinganmu saja tetapi perhatikanlah kepentingan orang lain, perhatian juga kepentingan kolega dan rekan-rekan seperjuangan Anda. Sebab tanpa mereka anda bukan siapa-siapa.

Kalau Anda bisa memperhatikan mereka seperti layaknya keluarga maka sebenarnya Anda sudah menyelesaikan satu persoalan di dalam organisasi anda. Apakah itu? TRUST. Ketika ada rasa percaya di organisasi maka organisasi akan berjalan dengan baik karena mereka saling percaya, tidak ada jegal-jegalan, tidak ada ‘manajemen katak’.

Dalam beberapa kajian Akuntansi keperilakuan sudah terbukti bahwa Trust akan mampu untuk meningkatkan kinerja organisasi dan kinerja individual. Jadi, berikan perhatian pada rekan-rekan Anda karena perhatian adalah penghargaan.

Pemimpin adalah Memberi Inspirasi

Banyak referensi saat ini yang menyatakan bahwa inovasi merupakan bagian dari strategi organisasi. Saya setuju, karena selama tujuh tahun ini saya belajar tentang inovasi. Inovasi jadi core competency yang amat penting. Karena itu Anda punya tanggung jawab memunculkan inovasi-inovasi rekan-rekan anda karena mereka adalah orang-orang yang potensial. Inovasi mereka akan berdampak positif bagi kinerja organisasi anda. Salah satu caranya, Anda harus bisa menginspirasi mereka.

Pemimpin harus menginspirasi rekan-rekannya. Melalui inspirasi, tidak hanya paradigma mereka yang berubah namun juga perilaku mereka. Menginspirasi berarti mengembangkan rekan-rekan Anda menuju tingkatan yang lebih baik. Tanggungjawab Anda sebagai pemimpin untuk menggandeng, mendorong, dan menarik rekan-rekan Anda supaya maju. Jadi pemimpin jangan maju sendirian tetapi harus mengantar rekan-rekan Anda untuk maju.

Salah satu pemimpin yang berhasil adalah kalau rekan-rekannya berhasil, sebaliknya kegagalan pemimpin kalau rekan-rekannya stagnan, tidak berkembang, dan gagal. Jadi, keberhasilan pemimpin adalah karena rekan-rekannya tetapi kegagalan organisasi karena pemimpinnya.

Reinald Khasali pernah menyatakan, lebih baik sekelompok kambing yang dipimpin oleh seekor singa daripada sekelompok singa yang dipimpin oleh seekor kambing. Jangan menjadi pemimpin yang tidak ingin melihat rekan-rekannya maju. Jangan menjadi pemimpin yang ingin maju sendirian, nanti anda akan ‘sendirian di puncak’. Jadilah inspirator bagi rekan-rekan Anda!

Inspirasi bisa timbul melalui banyak hal. Pengalaman saya, yang paling mudah dan menantang adalah melalui interaksi yang intens dengan rekan-rekan. Maklum, karena saya Akuntan sehingga saya menerapkan interactive control system (Simons, 1995).

Salah satu inspirasi yang sering saya lakukan dan berhasil adalah menginspirasi melalui hal-hal yang berbeda yaitu cara yang berbeda, pemikiran yang berbeda, tindakan yang berbeda, dan hal-hal yang dapat membuat perbedaan dengan orang lain. Ketika Anda melihat kolega dan rekan Anda mulai mencoba hal-hal yang berbeda, mau mengubah kebiasaan yang lama, mereka ingin tampih beda, maka Anda berhasil menginspirasi mereka.

Sebagai contoh, saya menginspirasi rekan-rekan untuk membuat makalah ilmiah dari masalah-masalah sederhana sehari-hari. Biasanya dosen ketika membuat makalah pasti yang ‘berat-berat’. Entah itu metode yang canggih, alat analisis statistika yang hebat dan hal lainnya.

Tiga tahun lalu saya menginspirasi kolega dan rekan saya dengan penelitian sederhana. Kasus yang saya angkat adalah kasus sehari-hari yang dihadapi dosen. Beberapa tulisan saya masuk ke seminar nasional dan internasional untuk dipresentasikan. Selanjutnya cukup banyak para dosen yang mengikuti jejak saya untuk meneliti kasus nyata di sekitar hidup mereka, bahkan beberapa mendapat penghargaan sebagai paper terbaik di seminar nasional dan internasional.

Ketika iseng-iseng saya tanyakan beberapa dosen tersebut saya cukup kaget. Mereka menyatakan bahwa apa yang saya lakukan menginspirasi mereka. Ada yang belum pernah menulis jadi menulis, ada yang hanya menulis level nasional menjadi level internasional, ada yang mulai mentarget menulis setiap semester. Pokoknya banyak deh, perubahannya. Amazing!

Proses tersebut terjadi melalui interaksi yang sangat intens maka akan muncul ide, gagasan, inovasi, kreativitas. Bahkan yang paling penting Anda akan tahu bagaimana kompetensi dan potensi rekan-rekan anda. Cobalah resep saya ini: berinteraksi dengan rekan-rekan Anda. Jadi, berinteraksilah!

Pemimpin adalah Memberi Pengaruh

Salah satu aspek yang sulit adalah keteladanan. Ada pepatah bijak mengatakan “Action speaks louder!” Tindakan atau teladan lebih kuat dampaknya daripada kata-kata. So,  please jangan NATO! Kalau Anda minta rekan-rekan datang jam 07.30, Anda harus datang jam 07.30 kalau perlu lebih awal. Aksi-aksi Anda akan lebih terekam dengan mendalam dan lama dibanding kata-kata Anda. Artinya, teladan perilaku Anda akan mempengaruhi orang lain. Keteladanan juga akan membentuk TRUST dari kolega dan rekan anda. Mereka akan lebih percaya pada tindakan daripada perkataan.

John Maxwell mengatakan “Leadership adalah pengaruh, tidak lebih tidak kurang.” Inilah yang selalu saya ingat. Kalau kita mau memberikan pengaruh maka berilah teladan. Teladan dalam hidup sehari-hari, teladan dalam bekerja, teladan dalam banyak hal terutama teladan Anda dalam hubungan anda dengan Tuhan. Ingat, God first! Teladan berbicara sangat kuat.

Memberi teladan memang sangat sulit karena kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelemahan. Namun teruslah memperbaiki diri, teruslah mengembangkan diri, teruslah berusaha untuk menjadi sempurna walau kita tidak bisa sempurna yang sejati karena kesempurnaan milik Tuhan. Jadi, jadilah teladan!

Jadi, apakah ini yang disebut Leadership by walking around? ***

Perlukah Good University Governance di Indonesia?

Oleh Melvie Paramitha Alumna Akuntansi 1998, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Kartika Surabaya

anakatma.id – Universitas merupakan organisasi yang terdiri dari orang-orang yang berpendidikan dan memiliki integritas tinggi terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia. UU No. 12 Tahun 2012 pasal 63 menyatakan, perguruan tinggi (PT) memiliki otonomi masing-masing dalam pengelolaan universitasnya. Bagaimana dengan PT yang juga merupakan suatu institusi? Apakah diperlukan good corporate governance (GCG)? Mengingat bahwa informasi keuangan universitas tidak disampaikan ke publik/masyarakat.  Terdapat perbedaan dan persamaan dari asas GCG dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan.

Tulisan ini ingin memaparkan penerapan prinsip-prinsip pengelolaan pendidikan sesuai UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dalam mendukung good university governance di Indonesia. Pemerintah telah menetapkan UU yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut hendaknya diterapkan pula dalam tri dharma perguruan tinggi. Dengan prinsip tersebut, diharapkan PT dapat mendukung terciptanya good university governance.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang sempurna dan memiliki akal budi yang hendaknya digunakan  untuk berpikir dalam menyikapi sesuatu fenomena atau kejadian. Manusia juga mempunyai kebebasan menentukan dari sudut pandang mana manusia menyikapi sesuatu hal. Sering kali, sudut pandang antara satu orang dengan yang lain tidak sama, sehingga memunculkan persepsi yang berbeda terhadap sesuatu hal. Itulah yang dimaksud dengan berfilsafat.

Filsafat merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang tidak mudah untuk dicerna dan abstrak. Dalam berfilsafat, tidak ada yang benar dan yang salah. Tetapi dengan mempela jari ilmu filsafat, kita belajar untuk mengetahui pola pikir seseorang terhadap sesuatu. Dengan belajar filsafat, kita tidak merasa menjadi orang yang paling benar, tetapi belajar memosisikan diri kita kepada orang lain yang memiliki sudut pandang berbeda.

Dengan belajar filsafat, kita belajar bagaimana mendengarkan dan menerima pendapat orang lain. Ilmu filsafat dapat diterapkan di berbagai bidang termasuk ilmu akuntansi. Dengan ilmu filsafat, kita dapat melihat hal-hal yang berkaitan dengan bidang di akuntansi dari sisi berbeda. Dalam artikel ini, penulis ingin memaparkan tentang prinsip-prinsip pengelolaan pendidikan yang dapat diterapkan sebagai pendukung terciptanya good university governance.

Di Indonesia, topik yang sering dibicarakan adalah good corporate governance (GCG). Perusahaan go public memiliki berbagai stakeholders yang memerlukan laporan keuangan perusahaan dalam pembuatan keputusan. Dengan demikian, perusahaan diharapkan melaksanakan GCG sehingga dapat membuat laporan keuangan yang baik dan berguna bagi stakeholders.

Bagaimana dengan universitas? Universitas merupakan organisasi yang terdiri dari orang-orang yang berpendidikan dan memiliki integritas yang tinggi terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia. Para akademisi diharapkan mampu menjalankan universitas dengan baik dan menjadi contoh bagi pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Universitas merupakan institusi otonom, sehingga mampu membuat keputusan sendiri untuk pengembangan universitasnya. Pada 2012, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mencanangkan pelaksanaan good university governance.  Pada 2012 juga, pemerintah menetapkan UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tertinggi. Perguruan tinggi dihimbau memiliki good university governance sehingga mampu menciptakan lulusan yang baik dan berkualitas, baik secara intelektual maupun secara moral.

Peraturan Pemerintah Mengenai Pengelolaan Pendidikan

Pendidikan merupakan modal utama suatu negara. Dengan memiliki pendidikan yang baik, masyarakat memiliki kompetensi dan kemampuan dalam pembangunan dan pengembangan negara. Untuk menghasilkan masyarakat berpendidikan, dibutuhkan suatu sistem pendidikan yang baik dan memiliki standar/peraturan nasional. Dengan adanya peraturan tertulis, maka penyelenggara pendidikan di Indonesia dapat mematuhi peraturan tersebut sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas standar.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang ditandatangani oleh Presiden pada 28 Januari 2010. Pada 28 September 2010, pemerintah mengeluarkan PP No 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas  PP No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Kedua PP tersebut mengatur pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan dari pendidikan anak usia dini sampai dengan PT. PP No 66 Tahun 2010 menguraikan aturan pengelolaan pendidikan dengan lebih rinci dibandingkan dengan PP No 17 Tahun 2010. Salah satu uraian pada pasal 49 PP No 66 Tahun 2010 menyatakan bahwa dasar/pedoman dalam pengelolaan pendidikan yaitu:

  • Nirlaba: pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan tidak memiliki tujuan utama mencari keuntungan /profit.
  • Akuntabilitas: segala kegiatan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan dapat dipertanggungjawabkan kepada stakeholders.
  • Penjaminan mutu: kegiatan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan berdasarkan pada standar nasional yang ada sehingga pendidikan yang diberikan memiliki mutu yang terjamin.
  • Tranparansi: informasi yang disampaikan terbuka, relevan, dan tepat waktu diberikan kepada para stakeholders.
  • Akses berkeadilan: pelayanan pendidikan diberikan kepada semua pihak tanpa ada pembedaan.

Selain pasal 49 tersebut, ada beberapa pasal lain yang diuraikan dengan lebih rinci. Pemerintah mengharapkan  agar penyelenggara pendidikan dapat menjalankan pengelolaan pendidikan dengan lebih baik.  Pemerintah menginginkan pendidikan di Indonesia dapat berjalan dengan lebih terbuka/transparan dan tidak hanya mengejar keuntungan saja, tanpa memperhatikan sistem pendidikan dan kualitas lulusan. Jika masyarakat menerima pendidikan berkualitas, maka kondisi negara dan masyarakat menjadi lebih kondusif. Dengan demikian, pendidikan merupakan tumpuan utama dalam pengembangan kemampuan dan pola pikir masyarakat.

Pada 2012, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi sebagai pedoman penyelenggaraan perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). UU ini melengkapi peraturan pe merintah tentang penyelenggaraan pendidikan yang mengatur lebih lanjut mengenai pengelolaan dan penyelenggaraan PT. UU ini tidak dapat dipisahkan dengan peraturan pemerintah sebelumnya karena ada beberapa hal yang tidak disampaikan di UU ini karena telah disebutkan di peraturan pemerintah.

Good University Governance

Pembahasan mengenai GCG merupakan trending topic di Indonesia. Perusahaan go public diharapkan melaksanakan GCG untuk membantu pengambilan keputusan bagi stakeholders berdasarkan informasi keuangan yang disampaikan oleh perusahaan. Bagaimana dengan perguruan tinggi yang juga merupakan sebuah institusi? Apakah diperlukan good university governance mengingat informasi keuangan universitas tidak disampaikan ke publik sehingga kondisi keuangan dan bagaimana penggunaan keuangan sebuah univesitas tidak diketahui oleh umum?

Dilihat dari sisi filsafat ilmu, good university governance diperlukan di Indonesia. Dari sisi ontologi, PT merupakan institusi pendidikan tertinggi yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi sehingga diharapkan mampu mengelola universitas dengan baik dan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas baik dan kompeten.

Dari sisi epistemologi, asas GCG dapat diterapkan pada good university governance karena PT merupakan institusi yang otonom yang mampu mengelola universitas dan mengambil keputusan dengan mandiri. Penelitian Saint (2009) menyatakan, pengelolaan universitas di Indonesia memiliki otonomi yang tinggi. Selain itu, UU No 12 Tahun 2012 pasal 63 menyatakan, PT memiliki otonomi masing-masing dalam pengelolaan universitasnya. Dari sisi human nature, PT terdiri dari orang-orang yang memiliki idealisme dan pemikiran masing-masing, Dengan demikian, merekalah yang menentukan bagaimana kondisi dan jalannya PT.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa good university governance diperlukan di PT Indonesia. Good university governance dapat mengarahkan para akademisi PT dalam menjalankan penyelenggaraan pendidikan tinggi. Menurut Kruecken (2011: 4) universitas adalah institusi yang terdiri dari aktor-aktor intelektual. Mereka menentukan apa tujuan yang akan dicapai dalam pengelolaan PT, memilih sendiri kegiatan dan program kerja yang akan dilaksanakan dan mampu bertanggung jawab dengan apa yang dilaksanakan.

Penelitian mengenai good university governance sering dilakukan di luar negeri dengan memberi perhatian khusus terhadap pendidikan dan pengelolaannya. Negara-negara maju seperti Australia, Amerika, Inggris, Belanda, Austria, Pakistan, Skotlandia (Swansson, 2005: 98; Barakonyi, 2007: 73; Aurangzeb and Asif, 2012: 197; Prondzynski, 2012: iv) memiliki badan atau lembaga sendiri yang mengatur mengenai good university governance. Negara memiliki aturan, standar, karakteristik, dan teori yang baku sehingga dapat digunakan sebagai pedoman bagi pengelola universitas negeri maupun swasta dalam menjalankan penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mencanangkan pelaksanaan good university governance pada 2012 bersamaan dengan keluarnya UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dengan demikian, pelaksanaan good university governance juga didukung oleh aturan tertulis.  UU tersebut menyampaikan prinsip-prinsip pengelolaan perguruan tinggi yang tak jauh beda dengan PP No 66 tahun 2010, yaitu akuntabilitas, transparansi, nirlaba, penjaminan mutu, dan efektivitas dan efisiensi. Selain prinsip efektivitas dan efisiensi, pengertian dari prinsip-prinsip tersebut sama dengan pengertian di PP No 66 Tahun 2010.

Penerapan Prinsip Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan

Pemerintah mengeluarkan PP No 66 Tahun 2010 dan UU No 12 Tahun 2012. Kedua aturan tersebut memiliki perbedaan dan persamaan  asas GCG dan prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut:

Tabel 1. Asas GCG dan Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Sumber: KNKG, 2006; PP no. 66 tahun 2010; UU no. 12 tahun 2012

Terdapat perbedaan yang utama antara prinsip GCG dan penyelenggaraan pendidikan yaitu prinsip nirlaba. Di asas GCG tidak terdapat prinsip nirlaba seperti yang terdapat pada prinsip penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan tidak memiliki tujuan utama untuk mencari keuntungan. Hasil dari proses pengelolaan dana bagi pendidikan digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana perguruan tinggi. Sedangkan di perusahaan, tujuan utama dari operasional perusahaan adalah mencari keuntungan.

Perbedaan lain antara asas GCG dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan yaitu prinsip penjaminan mutu. Di asas GCG tidak terdapat prinsip penjaminan mutu seperti yang terdapat pada prinsip penyelenggaraan pendidikan. Institusi pendidikan, terutama PT, merupakan institusi yang mencetak dan menghasilkan lulusan yang diharapkan memiliki kompetensi dan kualitas yang baik. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas baik, maka dibutuhkan proses pembelajaran, kurikulum, pendidik, sarana dan prasarana yang bermutu dan sesuai standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, dalam proses pendidikan hendaknya terdapat penjaminan mutu bahwa lulusan yang dihasilkan akan sesuai dengan standar dan memiliki kualitas yang baik.

Selain itu, di dalam PP No 66 Tahun 2010 terdapat prinsip akses berkeadilan sedangkan di UU No 12 Tahun 2012 prinsip tersebut digantikan dengan prinsip efisiensi dan efektivitas. Berdasarkan pengertian efisiensi dan efektivitas, maka penggunaan sumber daya yang diperoleh oleh perguruan tinggi hendaknya tepat sasaran dan tidak terjadi pemborosan. Perguruan tinggi dapat mencari sumber pendanaan sendiri, mandiri, otonomi, yang berasal dari luar penerimaan dana mahasiswa. Dana-dana tersebut dapat diperoleh dari pemerintah (misalnya hibah penelitian dan nonpenelitian), donatur, yayasan, kerja sama dengan lembaga atau perusahaan dalam negeri maupun luar negeri. Dana hendaknya digunakan sesuai tujuan penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan sumber daya yang tepat sasaran. Juga tidak digunakan dengan semena-mena sehingga terjadi pemborosan atau untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Penerapan prinsip penyelenggaraaan pendidikan tinggi berdasarkan UU No 12 Tahun 2012 tentang PT dalam mendukung good university governance sebagai berikut:

Prinsip Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah komitmen PT untuk mempertanggungjawabkan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses penyelenggaraan pendidikan kepada stakeholders. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat diukur dengan jumlah mahasiswa dan dosen yang ada, sarana dan prasarana, proses belajar mengajar (PBM) yang mendukung kualitas dan kompetensi lulusan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan.

PT di Indonesia memiliki otonomi yang besar dalam menyelenggarakan proses pendidikan (Saint, 2009). Menurut Gillies (2011; 11), otonomi sebuah perguruan tinggi bisa meliputi rekrutmen dan promosi karyawan di semua level dan bagian, menyetujui adanya pembukaan prodi baru atau lembaga/unit baru, melakukan dan memilih kegiatan penelitian, dan dapat menentukan arah, visi, misi, dan kebijakan universitas. Dengan otonomi yang tinggi di universitas, maka kegiatan dan proses penyelenggaraan ditentukan dan diputuskan sendiri oleh sivitas akademika. Apapun kegiatan dan program kerja yang dilaksanakan oleh universitas hendaknya dapat dipertanggungjawabkan sehingga prinsip akuntabilitas dalam perguruan tinggi dapat tercapai, dengan demikian, terciptalah good university governance.

Prinsip Transparansi

Transparansi adalah keterbukaan dalam penyajian informasi yang relevan mengenai kegiatan dan proses penyelenggaraan pendidikan secara tepat waktu dan akurat kepada stakeholders. Dalam proses pengambilan keputusan, pimpinan dan pejabat struktural di PT mengutamakan kesepakatan secara kolegial. Kolegial memiliki arti kesepakatan/keputusan yang dibuat berdasarkan keputusan bersama pada posisi sebagai kolega atau rekan kerja. Kolegial bersifat kolektif dan keputusan diputuskan dan disetujui bersama-sama. Dengan proses yang seperti itu, maka transparansi merupakan persyaratan dasar untuk menjaga akuntabilitas institusi perguruan tinggi/universitas (Jensen, 2010; 19).

Perguruan tinggi memiliki stakeholders yang mempunyai kepentingan masing-masing. Mahasiswa menginginkan pendidikan yang berkualitas, karyawan menginginkan kondisi yang kondusif dalam kegiatan pelayanan ke mahasiswa, lingkungan bisnis menginginkan lulusan yang berpendidikan baik, pemerintah menginginkan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan, yang meliputi tridharma perguruan tinggi, dapat berjalan dengan baik (Gillies, 2011: 4). Dengan adanya berbagai kepentingan tersebut, maka hendaknya PT dapat transparan dalam pengambilan keputusan sehingga stakeholders mengetahui dengan pasti tujuan dan proses pembuatan suatu keputusan, dengan demikian, terciptalah good university governance.

Prinsip Nirlaba

Nirlaba adalah penyelenggaraan pendidikan tidak bertujuan untuk mencari keuntungan sehingga dana yang diperoleh digunakan untuk peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan sarana prasarana sehingga dapat mendukung pembentukan lulusan yang berkualitas.

PT merupakan institusi yang bergerak di bidang jasa dalam rangka pembentukan lulusan yang berpendidikan. Baik PTN maupun PTS, masing-masing memiliki otonomi untuk mengelola keuangan. PTN bertanggung jawab kepada pemerintah, sedangkan PTS bertanggung jawab kepada yayasan. Harapannya adalah baik PTN maupun PTS tidak menghalalkan segala cara untuk mencari dana dan keuntungan hanya semata-mata dorongan/motivasi dari pihak-pihak tertentu untuk kepentingannya.

Prinsip nirlaba ini juga diterapkan dalam tri dharma PT. Dalam hal pengajaran, hendaknya pendidik lebih mengutamakan kualitas pengajaran dan pembelajaran bagi mahasiswa dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh bagi pendidik. Dalam hal penelitian, dana penelitian yang diperoleh melalui berbagai sumber hendaknya digunakan dengan semestinya dan tidak mencari keuntungan sendiri atau kelompok tertentu.

Dalam hal pengabdian masyarakat, program kerja dan kegiatan kepada masyarakat hendaknya bertujuan untuk mengembangkan potensi, kemampuan, dan pengetahuan masyarakat. Para akademisi lebih menekankan kepada cara dan metode yang baik dalam pengabdian kepada masyarakat, tidak menekankan akan hasil yang diterima dari program pengabdian tersebut, dengan demikian, terciptalah good university governance.

Prinsip Penjaminan Mutu

Penjaminan mutu adalah kegiatan, program kerja dan layanan PT dilaksanakan dengan memenuhi/melampaui standar nasional dan secara terus-menerus berupaya meningkatkan mutu pelayanan pendidikan. PT merupakan institusi di bidang jasa yang mencetak lulusan yang berkualitas. Maka proses pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan berpedoman pada standar pendidikan sehingga lulusan yang dihasilkan memiliki kualitas sesuai harapan stakeholders.

Hasil akhir dari proses penyelenggaraan pendidikan adalah lulusan yang berkualitas dan sesuai dengan standar. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak di dalam universitas. Bukan hanya tugas pendidik, tetapi semua pihak dalam pemberian pelayanan juga berperan dalam penjaminan mutu. Prinsip penjaminan mutu ini juga dapat diterapkan dalam tri dharma PT.

Dalam hal pengajaran, pendidik hendaknya memberikan informasi terbaru berkenaan dengan ilmu yang disampaikan. Proses belajar mengajar dilakukan interaktif dan mengutamakan keaktifan mahasiswa. Dalam hal penelitian, pendidik hendaknya melakukan penelitian sesuai dengan bidangnya, sehingga hasil penelitian tersebut dapat dibagikan ke berbagai pihak dan memberi tambahan wawasan baru sehingga kualitas pendidik dan mahasiswa lebih baik.

Dalam hal pengabdian masyarakat, program kerja dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat hendaknya dapat membantu dan mengembangkan potensi dan kemampuan masyarakat sehingga kegiatan tersebut memiliki nilai tambah, berkualitas, dan bermanfaat, dengan demikian, terciptalah good university governance.

Prinsip Efektivitas dan Efisiensi

Efektivitas dan efisiensi adalah kegiatan dan program kerja perguruan tinggi yang menggunakan berbagai sumber daya diupayakan agar tepat sasaran dan tidak terjadi pemborosan. Perguruan tinggi membutuhkan sumber daya dan dana untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal. Dana yang diperoleh dapat berasal dari penerimaan mahasiswa, pemerintah, yayasan, lembaga/perusahaan, dan donatur. Perguruan tinggi mempunyai otonomi dan kemandirian untuk memperoleh dana tersebut. Dana yang diperoleh hendaknya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung proses pendidikan yang berkualitas.

Prinsip ini juga dapat diterapkan dalam tridharma perguruan tinggi. Dalam hal pengajaran, apapun kegiatan yang mendukung proses belajar mengajar yang berkualitas hendaknya memiliki tujuan yang jelas dan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh lulusan. Dalam hal penelitian, dana penelitian yang diperoleh hendaknya dapat digunakan dengan sebaik-baiknya tanpa ada pemborosan dan mencari keuntungan untuk diri sendiri atau suatu kelompok. Dalam hal pengabdian kepada masyarakat, program kerja yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat sehingga pengabdian yang diberikan tepat sasaran dan dilaksanakan dengan pertimbangan dana yang sesuai dengan proses pelaksanaan pengabdian masyarakat, dengan demikian, terciptalah good university governance.

Berdasarkan uraian di atas, pemerintah telah menetapkan UU yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Dengan adanya prinsip tersebut, diharapkan PT dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mendukung terciptanya good university governance.

Kesimpulan

Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan memiliki mutu standar sangat diharapkan oleh berbagai pihak. Lulusan yang berkompeten dari PT dapat membantu pembangunan dan pengembangan suatu negara. Universitas merupakan institusi yang relevan dalam membantu pertumbuhan ekonomi yang terdiri dari para akademisi dan orang berpendidikan. Universitas memiliki kemampuan dalam menciptakan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, mengembangkan talenta dan kemampuan mahasiswa, mendorong terciptanya inovasi/ide baru dalam ilmu pengetahuan dan kaya dengan pembelajaran nilai-nilai budaya dan kehidupan.

Proses penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, tidak hanya bertitik berat pada proses belajar mengajar atau sistem pengajaran, tetapi juga didukung dengan program dan hasil penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, universitas tidak hanya merupakan tempat pengajaran saja, tetapi juga tempat penelitian yang dapat menghasilkan suatu karya atau ilmu pengetahuan baru. Tri dharma PT harus dilaksanakan sesuai prinsip penyelenggaraan pendidikan sehingga pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Meskipun informasi keuangan tidak disampaikan kepada publik, demi menjaga image dan nama baik perguruan tinggi, maka good university governance diperlukan penerapannya di universitas di Indonesia.

Daftar Pustaka

Aurangzeb and Khola Asif, 2012,  Developing Good Governance, Management and Leadership in Universities and Degree Awarding Institutions (DAIs): A Case of Pakistan., International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences November 2012, Vol. 2, No. 11.
Barakonyi, Karoly., 2007, University Governance Overview And Criticism on The Hungarian Situation., Proceeding DRC Summer.
Endri,  2006, “Best Practice Good Corporate Governance Dalam Pengelolaan Perguran Tinggi Swasta.”, ILMU dan BUDAYA Volume : 27, No. 2.
Gillies, Malcolm., 2011, University Governance Questions for New Era. Hatmodjosoewito, Soenarmo J., 2010, “Hubungan Antara Transparansi Pengelolaan
Universitas dengan Kinerja Karyawan dalam Rangka Menciptakan Good University Gover nance.”, Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis vol. 10 no. 1 hal. 1-18, Jakarta: Universitas Kristen Krida Wacana
Jensen, Hans Siggaard., 2010, “Collegialism, Democracy, and University Governance –The Case of Denmark.”, Working Paper on University Reform no. 15., Denmark: Danish   School of Education University of Aarhus.
Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), 2006, Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia.
Kruecken, Georg., 2011, A European Perspective on New Modes of University Governance And Actorhood. Research & Occasional Paper Series: Center for Studies in Higher Education. 17. 11., Berkeley: University of California.
Muhi, Ali Hanapiah., 2012; Membangun Good Governance pada Perguruan Tinggi di Indonesia.
Peraturan Pemerintah no. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Peraturan Pemerintah no. 66 tahun 2010 tentang Perubahan atas  Peraturan Pemerintah no. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Peraturan Pemerintah no. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Prondzynski, Ferdinand Von., 2012, “Report of the Review of Higher Education Gover-
nance in Scotland.”, The Review of Higher Education Governance. Saint, William, 2009, “Guiding Universities: Governance and Management Arrange-
ments around the Globe”, Human Development Network World Bank. Soegiono, Like dan Yudi Sebastian, 2012, Prinsip-Prinsip Good University Governance
Berbadan Hukum Yayasan di Indonesia. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Swansson, James A., Karen E. Mow, Stephen Bartos., 2005, “Good University Governance in Australia.”, Proceedings of 2005 Forum of the Australasian Association for In   stitutional Research.
http://gustiphd.blogspot.com http://kampus.okezone.com/read/2012/01/09/373/553998/large

Rekam Jejak Pada Perca Kain Pendidikan

Oleh Rosalia Prismarini Nurdiarti  Alumna FISIP 2002 Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

anakatma.id – Lama rasanya waktu menunggu panggilan itu, entah aku ada di urutan waiting list ke berapa. Kulihat satu per satu teman-temanku sudah mendapatkan tempat Kuliah Kerja Lapangan yang diinginkan. Beberapa instansi media di Jakarta sudah kulamar, mulai production house hingga beberapa media swasta nasional. Hampir satu semester menunggu, panggilan itu tak kunjung terdengar.

Beberapa media dan production house di Jakarta yang aku taksir, belum menyapaku. Beruntung aku mempunyai teman-teman seangkatan yang cukup care. Mereka membantuku memasukkan aplikasi ke TRANS TV. Mereka yang sebelumnya telah magang di beberapa program acara di sana, ternyata tahu celah bagaimana proses dan prosedur waiting list berlangsung. Sehingga ada yang menolongku untuk sampai pada beberapa urutan atas dari daftar panjang itu.

Waktu itu teman-teman angkatanku (2002) di Prodi Komunikasi FISIP UAJY memang sangat Jakarta minded ketika memilih tempat magang. Di sisi lain para dosen cenderung mendorong untuk mencari pengalaman pada instansi skala nasional sesuai konsentrasi studi. Tak jarang kami rela menunggu lama demi tempat magang yang sesuai ‘idealisme’ kami.

Kompetisi akademik begitu terasa kala itu. Sebuah keberhasilan, ‘kesuksesan’, diukur dari seberapa kredibel dan bergengsi sebuah tempat magang.,  selain melihat IPK dan keaktifan seorang dalam berbagai kegiatan dan organisasi. Akhirnya aku diterima di sebuah media swasta nasional yang relatif baru kala itu, tapi menurut pandangan beberapa orang cukup bersaing karena memiliki beberapa program yang dinamis dan kreatif.

Beberapa hari aku mengalami bagaimana aura bekerja di bagian news Reportase Sore TRANS TV. Menegangkan, penuh konsentrasi, kecepatan dan kecekatan. Seolah individu-individu yang bekerja di sana dijadikan sebagai komoditas. Mereka membaktikan waktu dan tenaga mereka hampir 24 jam.

Belum lagi ketika harus menyiarkan sebuah berita secara live, seluruh orang yang ada di divisi pemberitaan heboh mempersiapkan segala keperluan mulai dari konsep hingga teknis. Banyak dari mereka sudah kebal dengan lontaran kata-kata kasar dari produser maupun asisten produser.

Jika ada sesuatu yang tak beres atau kurang, acap terdengar ungkapan ketidakpuasan mereka. Bagi anak magang sepertiku, hal-hal keseharian rutinitas media seperti ini yang tidak pernah terungkap di bangku kuliah.

Setelah hampir satu bulan magang sebagai asisten produksi, aku baru diperbolehkan untuk ikut liputan para reporter itu. Ketika meeting pagi, masing-masing sudah ditentukan pos-pos mana saja yang akan mereka tempati.

Gedung DPR, kantor KPK, Mabes POLRI dan beberapa departemen di kementrian menjadi pos wajib yang menjadi sumber berita. Ketika ada reporter atau wartawan yang ketinggalan moment atau kejadian penting, mereka bisa dengan mudah meminta copy visual atau data dari media tetangga.

Pengalaman beberapa hari di lapangan membuatku semakin mengenal behind the scene dalam sebuah acara news yang berlangsung 30 menit itu. Sangat berbeda ketika membantu proses produksi di kantor, aku lebih fokus pada pengumpulan naskah berita yang dikirim oleh kontributor daerah. Di newsroom, produser, asisten produser, eksekutif produser dan beberapa reporter menentukan berita-berita mana saja dari para kontributor tersebut yang akan ditayangkan.

Pernah suatu kali ketika mengikuti liputan tentang rehabilitasi orang-orang yang baru keluar dari rumah sakit jiwa, seorang reporter meminta salah satu di antara mereka berakting menjadi petugas kebersihan sambil membawa gerobak sampah. Semacam seremonial bagi mereka yang telah sembuh (keluar dari RSJ) dan kembali ke masyarakat setelah dibekali ketrampilan-ketrampilan tertentu. Ironisnya liputan menjadi tidak natural, ketika sang reporter meminta beberapa pasien yang baru sembuh mempraktekkan ketrampilan mereka.

Belum lagi ketika ada reporter yang meminta gambar (rekaman kejadian atau peristiwa) pada reporter media lain, tak pelak segala polah itu mengejutkanku. Adakalanya ketika liputan sedang padat, beberapa di antara mereka berperan ganda, menjadi cameraman sekaligus reporter.

Satu bulan sudah hampir kulewati, bagian HRD memintaku untuk memperpanjang satu bulan lagi, karena ada salah satu asisten produksi yang sedang cuti hamil. Waktu yang sedikit lebih panjang dari teman-teman lain, semakin membukakan mataku tentang seluk-beluk media, khususnya pada divisi pemberitaan.  Rating menjadi jantung dan barometer dari seluruh kerja keras mereka.

Setiap satu minggu sekali, masing-masing staf yang terlibat dalam program Reportase Sore melihat rapor mereka. Ketika hasil rating mengalami penurunan, para petinggi divisi news seperti kebakaran jenggot. Mereka akan cenderung panik dan akan segera mengadakan rapat.

Aku mulai memahami sisi lain berita sebagai ‘barang dagangan’. Bahkan para petinggi di newsroom menyebutnya dengan istilah ‘belanjaan’, ‘jualan’ atau ‘menu’. Itu merupakan kode untuk mendata berita apa saja yang akan tayang hari itu. Layaknya sebuah komoditas, ketika dinyatakan tidak laku oleh rating, mereka akan melakukan beberapa cara untuk memoles kembali.

Jauh saat masih di SMU, aku melihat profesi sebagai wartawan, reporter atau jurnalis adalah pekerjaan keren, hebat dan mulia. Mereka memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan berani menanggung segala resiko dalam segala peristiwa. Alasan itulah yang mendorongku untuk menekuni bidang ilmu komunikasi, dan memilih Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai tempat aku berguru.

Perjalanan waktu menuntunku untuk melihat lebih dekat bagaimana ‘realitas’ media itu. Suatu ketika ‘menu belanjaan’ sudah diatur sedemikian rupa, hingga beberapa saat sebelum Reportase Sore on air, ada sebuah telepon ‘misterius’, sehingga ada tayangan yang harus di-cancel dan digantikan dengan tayangan ‘pesanan’ berupa seremonial dari salah satu pemegang saham TRANS TV.

Saat itu juga, ruang kontrol  segera menayangkan acara ‘pesanan’ tersebut.  Sebuah peristiwa yang ‘luar biasa’ dan ajaib bagiku saat itu. Bisa-bisanya semudah itu mengganti tayangan hanya gara-gara telepon misterius. Penasaran sebenarnya ingin menanyakan siapa sang penelpon, tapi apa daya pertanyaan sebagai anak magang hanya dianggap sebagai angin lalu.

Media pada akhirnya tak ubahnya sebagai penyalur kepentingan para pemilik modal. Gagasan Habermas tentang media sebagai institusi sosial yang memfasilitasi masyarakat, menjalankan diskursus sosial yang komunikatif demi pencapaian kepentingan masyarakat yang demokratis seakan justru menjauh.

Profit keuntungan, gejala privatisasi media dan komersialisasi ruang publik menjadi target capaian, ketimbang peran-peran sosial yang harus dikembangkan. Pada fakta-fakta inilah, harapan dan kepercayaanku akan media dan seluruh entitas di dalamnya yang mampu menularkan proses pemberdayaan dan edukasi pada masyarakat perlahan memudar.

Langkah Baru Menghapus Cita-Cita Semu

Beberapa waktu setelah proses Kuliah Kerja Lapangan, aku memiliki pandangan yang berbeda tentang bekerja di media. Aku menjadi kurang simpati dan kurang memiliki greget berkecimpung dalam dunia media. Akhirnya aku menentukan pilihan untuk bekerja di lingkungan pendidikan, penelitian atau semacam NGO dan LSM. Kuliah hingga hampir tujuh tahun, rasanya membuatku lebih mampu melihat bagaimana seluk-beluk ilmu komunikasi.

Setelah lulus di awal 2009, ternyata masa penantianku belum selesai, puluhan berkas lamaran kukirim, tapi hingga sembilan bulan belum menemukan tempat yang sesuai. Beberapa tes yang kuikuti juga tidak membuatku lolos ke tahap berikutnya. Aku sempat berpikir, apa aku terlalu pemilih. Namun bagiku, tak ada salahnya menjadi pemilih, sebab ketika kita berkarya menggarap sebuah ladang maka fokus dan komitmen kita sepenuhnya kita abdikan pada bidang tersebut.

Seorang yang memiliki IPK yang mumpuni, mengantongi beberapa skill serta aktif dalam beberapa organisasi ternyata belum tentu ‘ditaksir’ oleh instansi atau lembaga-lembaga itu. Aku mengalami ditolak karena apa yang mereka butuhkan tidak ada padaku. Tak jarang instansi itu menerima orang-orang sesuai yang mereka perlukan saat itu, atau mempunyai spesialisasi atau kualifikasi tertentu sesuai dengan ‘urgensitas’ instansi saat itu.

Tampaknya pada sisi ini, Prodi Ilmu Komunikasi Atma Jaya perlu melihat kembali, memetakan ulang kebutuhan stakeholder dalam hal ini lembaga/instansi yang concern di bidang komunikasi. Menyelenggakan penelitian yang berhubungan dengan jaringan yang terkait dengan pendidikan tinggi menjadi penting, untuk mampu memahami setiap perkembangan kebutuhan jaman. Sehingga ini membantu para lulusan untuk mampu menangkap peluang yang ada dan mempunyai kepekaan untuk berproses dalam bidang masing-masing.

Elemen pendidikan, tak terkecuali pendidikan tinggi tidak terlepas dari penyelenggara pendidikan yang di dalamnya merupakan satuan pendidikan yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat swasta, didukung oleh pimpinan (rektor, dekan, dll), pendidik (dosen) dan tenaga pendukung administrasi. Pengguna hasil pendidikan, orang tua dan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, tentunya mengharapkan hasil pendidikan berupa kompetensi yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Masing-masing pada akhirnya akan memberi kontribusi berupa sumber dana, fasilitas belajar dan magang, bantuan manajemen serta dukungan atas kebijakan pendidikan agar terwujud kompetensi yang bermutu. Sinergi antara entitas dalam pendidikan ini bisa dilalui dengan beberapa tahap yang merupakan siklus pembelajaran untuk mengidentifikasi masalah, hambatan dan strategi untuk mengatasinya.

Tahap tersebut di antaranya: sosialisasi gagasan, uji coba, implementasi skala kecil, implementasi penuh, evaluasi dan penyempurnaan. Tahapan tersebut digunakan untuk memetakan bagaimana strategi pendidikan tinggi dalam mengelola stakeholder yang terlibat di dalamnya (Musa, 2008 : 146).

Menyadari hal tersebut, aku tak ingin putus asa. Suatu waktu di awal 2010, ketika dalam perjalanan pulang kampung setelah menjalani tes wawancara, seorang teman seangkatan mengabarkan bahwa sebuah universitas swasta di Yogya sedang membuka Prodi Ilmu Komunikasi baru dan membutuhkan tenaga pengajar.

Aku melonjak kegirangan dan bersemangat mendengar berita itu. Tadinya kupikir cita-cita untuk berkecimpung di dunia pendidikan jauh panggang dari api, mengingat aku hanya lulusan S1 dan untuk mengajar di Perguruan Tinggi diperlukan pendidikan yang minimal setingkat lebih tinggi. Tak lama waktu yang kuperlukan untuk mengurus proses lamaran di tengah deadline waktu pendaftaran yang diberikan. Keyakinan dan tekad itu akhirnya berbuah manis. Tak berapa lama setelah mengikuti serangkaian tes, aku diterima di Kampus Mercu Buana Yogya, mengalahkan beberapa pesaing, yang salah satunya teman seangkatanku.

Aku sampai berpikir ada faktor “X” yang membuatku diterima, barangkali karena aku masih mau “berkompromi” dengan gaji yang ditawarkan. Hari-hari pertama aku masuk, langsung berkoordinasi dengan pihak rektorat dan SDM. Mengawali minggu dan bulan dengan serangkaian ‘pelajaran’ tentang seluk beluk dunia pendidikan. Seperti lari marathon rasanya. Prodi yang baru mendapat ijin dan mulai dirintis, perlu usaha yang optimal untuk mensinergikan antara satu dengan yang lain.

Menggawangi sebuah prodi atau fakultas baru untuk anak bau kencur seperti aku, sangat tidak mudah. Sebersit rasa khawatir, takut dan minder turut mewarnai bagaimana pengalamanku di awal menapaki dunia ini. Koordinasi dengan pihak Rektorat Mercu Buana Yogya dan tentunya mahaguru di padepokan Komunikasi FISIP Atma Jaya menjadi hal yang urgen saat itu bagiku.

“Learning by doing”, barangkali itulah kondisi yang tepat untukku waktu itu. Aku belajar bagaimana menggodok kurikulum, mencari mahasiswa, marketing prodi, mendata dosen-dosen yang akan mengajar, mengelola keuangan, hingga mengatur teknis perkuliahan.

Berkecimpung dalam dunia ini, aku memulainya dengan spirit bahwa pendidikan merupakan pilot project dan agen untuk melakukan perubahan sosial guna membentuk masyarakat baru. Menjadikan pendidikan sebagai pilot project berarti berbicara tentang sistem politik kebudayaan yang melampaui batas-batas teoritis dari doktrin politik tertentu. Di sisi lain juga bicara tentang keterkaitan antara teori, kenyataan sosial dan makna emansipasi yang sebenarnya.

Sebagai dasar melakukan perubahan, pendidikan merupakan wadah dan ‘surat perjanjian khusus’ dengan masyarakat yang menentukan kehidupan sosial di masa yang akan datang. Menyitir pandangan Paulo Freire, pendidikan merupakan latihan untuk memahami makna kekuasaan dan komponen yang terlibat di dalamnya dalam berkomunikasi, tidak dalam pola kuasa-menguasai. Tetapi lebih pada hubungan dialektis antara individu dan kelompok, untuk melepaskan diri dari dominasi yang membatasi ruang gerak (Freire, 2009 : 5-6).

Aku menyadari pekerjaan rumah bagi tantangan pendidikan tak kunjung rampung. Problem sekolah mahal, isi kurikulum dan menjamurnya kebijakan privatisasi pendidikan sangat terkait dengan bagaimana perubahan pada tingkatan makro terjadi. Salah satu unsur yang menjadi jantung adalah sejarah pengembangan kurikulum dengan berbagai variasi perubahannya baik pada wilayah isi dan pengelolaan tema-tema pendidikan, pembiayaan dan tahapan pelaksanaan, selalu dekat dengan gesekan-gesekan berbagai kepentingan.

Melangkahkan kaki dalam sistem besar pendidikan, memiliki konsekuensi untuk memahami, mendalami dua sisi dalam dunia tersebut. Tuntutan yang secara normatif ditegaskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Kebijakan kurikulum menjadi salah satu mata rantai dari bangunan pendidikan. Kebijakan tersebut bukanlah entitas netral yang yang hanya menjadi kepedulian sektor pendidikan. Kurikulum adalah prototipe wajah generasi pendidikan yang harus disusun dalam kerangka yang luas menyertakan seluas-luasnya keterlibatan masayarakat.

Gagasan Louis Althusser barangkali menjadi benar bahwa pendidikan mampu menjadi ’mesin aparatus ideologis’ yang paling efektif untuk membangun berbagai narasi pengetahuan yang mendukung formasi sosial. Tinggal yang terpenting bagi kita saat ini adalah ’formasi hubungan sosial’ apa yang saat ini akan Indonesia rumuskan untuk membangun model-model pendidikan yang tepat bagi kebutuhan masyarakat.

Strategi dalam Berkompetisi pada Pendidikan Tinggi

Bagaimana pun, sebuah gagasan besar harus diimplementasikan dan dioperasionalkan dalam tindakan nyata. Elemen lain yang tak kalah penting sebagai Prodi baru adalah terkait mencari calon mahasiswa di tengah belantara persaingan Perguruan Tinggi Swasta yang begitu hebat. Hingga Perguruan Tinggi yang kalah bersaing harus gulung tikar. Dari data Kopertis V, pada tahun 2009 ada 117 Perguruan Tinggi Swasta sedangkan di tahun 2010 tinggal 115 PTS belum lagi ada tiga prodi yang ditutup karena kekurangan mahasiswa (IRE, 2010).

Data lain menunjukkan bahwa sejak disahkannya UU No. 12/2012 tentang Perguruan Tinggi membuat kondisi PTS semakin terjepit. Hal ini disebabkan PTN diberi kesempatan untuk membuka program Diploma (mulai D1-D4) (Pikiran Rakyat, 15 September 2012). Alhasil persaingan untuk mendapatkan mahasiswa semakin sengit.

Problem pada sektor kebijakan pendidikan hampir selalu pragmatis, tanpa menyentuh realitas konkrit di lapangan sehingga acap berbenturan. Negara dalam hal ini tidak seharusnya berposisi hanya sebagai ‘panitia pelaksana’, sehingga sebuah kebijakan seolah terkesan dibentuk dan dikawal oleh para agen penentu yang telah berorientasi pada visi kepentingan kelas dominan.

Uraian pembukaan UUD 1945 secara eksplisit menyatakan bahwa hakikat dan tujuan bereksistensinya keindonesiaan adalah meletakan tujuan pendidikan sebagai ihwal yang penting. Salah satu orientasi besar negara ini berdiri adalah ‘mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Pada rumusan tersebut, ada nalar profetis bahwa ‘kecerdasan’ harus dimiliki oleh segenap entitas bangsa. Mengikat ‘keindonesiaan’ dalam spirit pengembangan modal pengetahuan adalah cita-cita luhur yang secara normatif belum kita ubah sampai hari ini.

Bahkan lebih dari itu, konsepsi di atas ingin mengatakan bahwa pendidikan adalah ‘sumber’ sangat besar dalam membawa Indonesia bisa merdeka dan berdaulat sebagai bangunan masyarakat bangsa yang modern (Narwaya, 2009).

Tetapi jika ditilik lebih dalam, ternyata pusat kebijakan dan infrastruktur penting yang hanya terpusat pada pemerintahan pusat yang notabene di Jawa mendorong akses pendidikan sangat terkosentrasi di Jawa. Hal ini tak pelak menimbulkan kesenjangan yang luar biasa, sehingga berdampak pada tingkat kemajuan pendidikan di daerah.

Kompleksitas bangunan pendidikan, membuat sepanjang usia kitapun barangkali belum cukup menjelajahinya. Spirit itu membuatku mulai menapak kembali ke tanah, mengurai satu demi satu apa yang harus dilakukan untuk membuat pondasi pada prodi baru ini.

Secara manajerial Universitas Mercu Buana sedang melakukan rebranding, setelah pergolakan politik pasca 1998 yang sempat menggoncang kampus yang semula bernama Wangsa Manggala ini. Perlahan aku mempelajari sejarahnya, budaya organisasinya hingga aktor-aktor yang berperan penting dan menjadi “think tank” di kampus tersebut, khususnya pada Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia.

Secara makro, aku juga membaca beberapa isu terkait pendidikan, tak luput adalah tentang kompetisi yang semakin ketat karena Indonesia telah terintegrasi dalam Masyarakat Ekonomi Asean. Pada level nasional mulai bermunculan PTS yang dibangun dengan model korporasi, salah satunya adalah memiliki fasilitas yang serba lengkap dan berwawasan global (Hadi, 2014).

Mengamati hal ini, tentu semakin diperkuat kembali konsolidari internal organ- isasi dan juga bagaimana menjalin relasi dan jaringan dengan pihak luar. Apa yang menjadi kekhasan sebuah perguruan tinggi, secara khusus pada tingkatan fakultas harus dipertahankan dan diupayakan agar dapat menjadi unggulan. Kecepatan perkembangan di tingkat global, memaksa sebuah instansi pendidikan untuk mampu berjuang antara ‘idealisme’ dan ‘realitas’ yang tak jarang membuahkan ‘kompromi’.

Pasar selalu menjanjikan bahwa dalam situasi ’pasar terbuka’, maka kompetisi dapat berjalan dan selanjutnya membuka tingkat pertumbuhan dan kemajuan masyarakat secara lebih sehat. Inilah mitos yang selalu dibangun. Mungkin ’kompetisi’ menjadi sangat menyenangkan bagi kekuatan negara dengan tingkat modal raksasa yang dimilikinya dan tentu sangat menyakitkan bagi negeri-negeri miskin yang selalu tergantung seperti Indonesia.

Tak terkecuali dalam bidang pendidikan, yang tak luput dari ‘jebakan’ hitunganhitungan angka ekonomis yang meletakkan kebijakan pendidikan bak entitas mesin penghasil keuntungan. Aku merasakan tarik-menarik yang demikian hebat ketika investasi modal, laba dan kepentingan pragmatisme pasar menjadi orientasi dasarnya. Pun juga ketika mengkerangkai logikaku bahwa pendidikan tak lebih dari ‘industri’ jasa.

Pergulatan itu semakin dalam saat aku harus berdiri untuk memasarkan Prodi Ilmu Komunikasi baru di Mercu Buana. Betapa saat itu, aku juga dikejar belajar tentang strategi marketing untuk perguruan tinggi. Merangkak dari awal hingga bermimpi untuk berkembang, mengusahakan nadi agar terus mengalir: calon-calon mahasiswa baru yang harus kami ‘rayu’.

Pendidikan tidak hanya dicermati dalam narasi besar, tantangan berikutnya justru hadir ketika sampai pada spesies problem-problem teknis yang tak kunjung usai. Ketika masuk dalam logika kompetisi, maka ‘menang’ dan ‘kalah’ agaknya menjadi rumus wajib untuk menjawab itu. Salah satu strategi yang bisa diupayakan untuk sebuah prodi baru adalah ‘merangkul’ para ‘pelanggan’, siapa lagi jika bukan calon mahasiswa dan mahasiswa yang mempercayakan ‘hidupnya’ pada sebuah institusi pendidikan.

Customer (pelanggan) dalam ‘jasa’ pendidikan akan lebih tepat jika diartikan sebagai ‘constituent’, yakni sebagai elemen penting dalam suatu constituency. Konstituen lebih baik dan lebih jelas dalam menggambarkan berbagai hubungan yang ada dalam organisasi yang bergerak di bidang jasa pendidikan seperti hubungan dengan mahasiswa, orang tua, tenaga pengajar, dewan penyantun, calon mahasiswa atau alumni.

Strategi Customer Relationship Management (CRM) ini merupakan suatu cara untuk melakukan komunikasi secara personal dalam skala makro. CRM akan menghasilkan gambaran setiap individu yang berada dalam organisasi beserta segala aktivitasnya dengan jelas dan lengkap. Konsep CRM menuntut komitmen dan kontak pelanggan yang tinggi, sehingga akan menghasilkan kualitas total. Tidak hanya sekedar pada orientasi output semata (Gaffar, 2009: 187-198).

Jika banyak orang menggadang-gadang agar pendidikan bisa diakses oleh setiap warga negara, maka pilihan tersebut bisa menjadi salah satu alternatif yang tak hanya sebagai pemanis bibir. Pendidikan tinggi akan mampu dijangkau apabila kita sungguh berorientasi pada peserta didik (constituent). Dengan demikian anak dengan tingkat intelektualitas dan ekonomi rata-rata masih dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Pendidikan mungkin tidak harus gratis, tapi institusi pendidikan secara mandiri mampu mengupayakan agar terbuka kesempatan yang sama antara si kaya dan si miskin.

Pendidikan mungkin tidak harus gratis, tapi institusi pendidikan secara mandiri mampu mengupayakan agar terbuka kesempatan yang sama antara si kaya dan si miskin. Contact management sebagai tahapan dari CRM bisa dijadikan sebuah langkah untuk mencatat setiap touch point utama dengan konstituen dan selalu meng-update database dengan informasi yang spesifik sehingga antara institusi dan mahasiswa bisa secara kontinyu melakukan interaksi serta komunikasi.

Campaign management adalah tahap selanjutnya yang berisi rancangan kampanye dengan content yang unik dan personal, yang secara khusus ditujukan untuk meningkatkan kesempatan belajar bagi semua kalangan. Terakhir adalah senantiasa merawat komitmen untuk memperoleh, meningkatkan dan menganalisis data konstituent sehingga mampu mengambil keputusan secara arif berdasarkan data tersebut.

Tahap-tahap tersebut akan membentuk dasar dan pemahaman bagi tahapan selanjutnya dalam proses CRM, sebagai contoh untuk melihat apakah mahasiswa mendapatkan bantuan dana pendidikan, berapa kali dan darimana sumber pendanaan itu (Gafar, 2009 : 192 – 193).

Belajar dari Mahasiswa: Sebuah Perspektif Dialogis

Hampir lima tahun aku menggeluti dunia pendidikan yang dalam pandanganku di awal sarat dengan dimensi etis dan ‘kesalehan’ yang kental. Tetapi nyatanya dalam setiap sisi kehidupan dalam menekuni profesi, kita acap dihadapkan pada paradoks dan dua sisi mata uang. Hal itu hampir selalu menimbulkan kelindan antara rasio, rasa dan tindakan. Ketika sampai pada kondisi ini, ada nilai-nilai dasar yang seharusnya mampu tetap dipertahankan, tidak semata untuk profesionalitas tapi juga menghidupi Sang hidup itu sendiri.

Persoalan pendidikan hadir bukan hanya diterjemahkan dalam disparitas kesenjangan antara yang ideal dan yang real. Nalar korespondensi ini seringkali mengungkung pada analisis dan pemecahan yang sekedar mendorong masalah untuk dikembalikan pada ‘gerbang normatif’ dan ‘batasan-batasan ideal’. Perlu pengkoreksian besar-besaran dalam seluruh nalar paradigma pendidikan sehingga bisa ditemukan problem-problem mendasar yang dapat dipecahkan. Jadi tidak berhenti pada pemecahan-pemecahan teknis dan instrumentalis.

Setiap gagasan perubahan sistemik dan paradigmatik sebenarnya banyak mensyaratkan kesiapan-kesiapan mendasar. Tahapan awal yang perlu dipersiapkan adalah kehendak pada mindset nalar pikir perubahan yang menjadi bekal epitestemik untuk mendorong perubahan-perubahan pendidikan lebih maju. Pijakan dan pondasi awal tentunya bisa dimulai dengan mendidik mahasiswa, menjadi dosen, karya pengajaran, dan lain-lain.

Berada di tengah input  mahasiswa yang bagi sebagian orang dianggap rata-rata memerlukan energi ekstra dan rencana yang berkelanjutan. Jika kita ‘lalai’ sedikit saja atau terkesan ‘mengabaikan’ keinginan dan kebutuhan para mahasiswa, maka mereka bisa saja menghilang dalam relasi kita dan hal ini juga tidak lepas dari teropong kendala sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Lebih dari itu, aku tak hendak terpaku pada orientasi tersebut.

Merawat mereka tak sebatas pada kepentingan ‘untung rugi’, tapi memahami mereka sebagai bagian dari proses humanisasi. Sebagaimana diungkap Allan Thomas (dalam Alma, 2009 : 16-17), bahwa pendidikan hendaknya bertanggungjawab untuk memberikan pelayanan, menginternalisasikan nilai-nilai dan motivasi serta mengasah kompetensi peserta didik agar terwujud manusia yang berkualitas, bertanggung jawab, serta berkarakter unggul.

Melalui perspektif tersebut, aku berusaha melihat kembali pada apa yang telah kukerjakan sepanjang tahun-tahun itu. Aksi-refleksi-aksi perlu dilakukan untuk bercermin pada mozaik karya-karya yang telah aku sumbangkan sejauh ini. Kualitas pendidikan bisa dilihat dalam tiga dimensi: mutu hasil belajar, mutu mengajar dan mutu bahan kajian pengajaran (Acmad Sanusi dalam Alma, 2009 : 24-26).

Seorang pendidik dalam praktek mengajar tidak identik dengan apa yang sebenarnya dia ketahui, kuasai atau bahkan yang dia kehendaki sendiri. Sejatinya orang hanya dapat mengajar dan mengajarkan sesuai dengan kepribadiannya.

Performa seorang pendidik dipengaruhi oleh dunia makro dan mikronya. Maka selain pengetahuan dan kompetensi pedagogis, setidaknya persepsi dan sikap terhadap sejumlah faktor lain di luar dirinya turut berkontribusi pada pola dan mutu mengajar. Bahan kajian dan pengajaran juga menjadi benang merah yang memberi nafas agar peserta didik mampu memilih cara belajar yang berkualitas. Kemampuan mengolah bahan kajian akan memberi daya kekuatan yang dapat membangkitkan seluruh potensi pikiran, rasa, kemamuan dan kepercayaan peserta didik.

Guru yang humanis harus tepat dalam memahami hubungan antara kesadaran mausia dan dunia. Bentuk pendidikan yang membebaskan melalui definisi ini menawarkan suatu ‘arkeologi kesadaran’. Dengan usahanya sendiri, seorang bisa menghidupkan kembali proses alamiah dimana kesadaran timbul dari kemampuan mempersepsi diri. Hal ini terjadi karena kesadaran reflektif menyebabkan manusia digolongkan sebagai makhluk yang mampu memahami sesuatu dan sekaligus memahami dirinya sendiri.

Oleh karenanya, kesadaran timbul sebagai hasrat, bukan wadah kosong yang harus diisi. Berangkat dari kesadaran itulah, guru adalah subyek yang mencoba mengetahui bersama subyek lainnya. Guru seyogyanya menyadari bahwa dialog tidak dimulai di dalam kelas, sehingga dia mempersipkan suatu program yang mengakui peran murid dalam penciptaan kembali pengetahuan.

Peran ini akan melibatkan murid juga dalam pendidikan mereka sendiri yang lebih lanjut. Guru dapat mengusulkan tetapi tidak dapat menentukan, sehingga dia kahirnya berperan dalam mengorganisasikan isi dialog (fasilitator) (Freire 2007; Collins 2011).

Relasi guru-murid, dosen-mahasiswa, pendidik-peserta didik menjadi unsur penting dalam pendidikan. Mereka menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses belajar mengajar. Peran yang dilakukan sangat kompleks di antaranya sebagai korektor, fasilitator, informator, inspirator, organisator, motivator, inisiator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator. Tetapi masih melihat bahwa sifat yang sering muncul dalam pendidikan kita adalah paternalistik, di mana guru menjadi pusat atau sumber pengetahuan dan kebenaran mutlak.

Di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, yang kerap terjadi sesungguhnya bukanlah pendidikan dalam arti sebenarnya, tapi sekedar pengajaran. Transformasi yang terjadi belum menyentuh pada transformas etika, perilaku dan moralitas. Hal ini salah satunya berakibat pada gagapnya peserta didik dalam menghadapi perkembangan teknolgi informasi yang begitu pesat hari ini (Susetyo, 2005: 148-152).

Kecenderungan untuk menempatkan kemajuan teknologi sebagai nilai tertinggi tidak hanya berarti pendewaan kita pada intelektualisme, tapi lebih gawat adalah keterikatan emosi kita yang mendalam pada mesin, benda mati, pada semua benda buatan manusia. Akibat lebih ekstrim adalah ketika tidak bisa membedakan mana kehidupan dan “sarana menjamin kehidupan” (Pieries, 2007:  56).

Revolusi teknologi ini turut ‘menjangkiti’ beberapa mahasiswa dalam proses belajar mengajar yang aku alami. Berapa kali aku menjumpai para mahasiswa yang copy paste dalam mengerjakan tugas. Ketika seorang pendidik belum mampu mengelaborasi kemajuan teknologi dan karakter dalam pengajarannya, maka keadaan ini secara sistemik akan memperkeruh kreativitas dan daya nalar seorang murid, akhirnya akan berpengaruh pada daya kritis terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dilema tersendiri ketika harus menghadapi mereka dalam ‘batas kesabaran’, sementara teringat pula bahwa pengajar sebagai bagian dari pendidikan tinggi (Prodi yang masih berkembang) berkewajiban ‘menjaga’ konstituennya dengan memberi manfaat seluasnya pada siswa (student centric focus).

Belajar memahami dan memaknai bahwa kehadiran ‘media baru’ saat ini tidak luput dari kaitan dengan problem mendasar tentang ‘peradaban material teknologi’. Tidak lagi teknologi yang dikonsepsi sebagai sebatas persoalan ‘perangkat teknis’, tetapi sebuah entitas maha luas yang menjadi bagian utuh dari peradaban manusia.

Meminjam pandangan Lewis Mumford bahwa teknologi sebagai bagian penuh dari ‘eksistensi-bertubuh’ dari manusia. Alat teknologi sebagai mediator diantara manusia dan dunia merupakan sebagian dari pengalaman manusia yang bertubuh. Pandangan ini sebenarnya kata kunci khas yang banyak dikembangkan oleh pemikir eksistensialisme seperti Martin Heidegger. Teknologi tidak bisa hanya dibaca sebagai problem tekni tetapi merupakan persoalan penting eksistensi manusia (Lim, 2012: 100-102).

Ia tidak hanya problem di luar tubuh manusia, tetapi secara filosofis dan antropologis menjadi karakteristik penting dari eksistensi dan hakikat manusia. Maka ‘keruwetan’ ini pula yang aku sampaikan sebagai bagian dari pendampingan terhadap para mahasiswa. Tidak hanya masalah melesatnya teknologi, tapi juga dimensi-dimensi lain yang berkontribusi dalam sebuah ladang yang bernama pendidikan.

Proses penyadaran adalah salah satu yang memang harus dimulai dari keteladanan. Cuplikan rekam jejak pada setiap perca kain pendidikan ini kurajut sebagai karya dan menghidupi spirit “melayani dalam cahaya kebenaran”.

Daftar Pustaka

Alma Buchari. 2008. Pemasaran Jasa Pendidikan yang Fokus Pada Mutu dalam Alma, Buchari dan Ratih Hurriyati (ed). Manajemen Corporate & Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan, Fokus Pada Mutu dan Layanan Prima. Alfabeta, Bandung.
Collins, Denis. 2011. Paulo Freire, Kehidupan, Karya & Pemikirannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Freire, Paulo. 2007. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Gaffar, Vanessa. 2008. Customer Relationship Management (CRM) Jasa Pendidikan dalam Alma, Buchari dan Ratih Hurriyati (ed). Manajemen Corporate & Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan, Fokus Pada Mutu dan Layanan Prima. Alfabeta, Bandung.
Lim, Franscis. 2012. Filsafat Teknologi (Don Ihde Tentang Dunia, Manusia dan Alat). Kanisius. Yogyakarta.
Musa, Ibrahim. 2008. Korporasi Produksi Pendidikan : Suatu Paradigma Reformasi dan Otonomi dalam Alma, Buchari dan Ratih Hurriyati (ed). Manajemen Corporate & Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan, Fokus Pada Mutu dan Layanan Prima. Alfabeta, Bandung.
Pieris John (peny.). 2007. Erich Fromm : Revolusi Pengharapan, Menuju Masyarakat Teknologi yang Semakin Manusiawi. Pelangi Cendekia. Jakarta
Susetyo, Benny. 2005. Politik Pendidikan Penguasa. LKiS. Yogyakarta Hadi, Bambang Sutopo. Senin, 2 Juni 2014. “Persaingan PTS diperkirakan semakin
ketat pada 2015”, diakses dari http://jogja.antaranews.com/berita/322919/persaingan-pts-diperkirakan-semakin-ketat-pada-2015 pada 23 Agustus 2015
Pikiran Rakyat. 15 September 2012. “UU No 12/2012 Buat Kondisi PTS Semakin Terjepit”, diakses dari http://www.pikiran-rakyat.com/node/203549 akses 22 Agustus 2015.
IRE. 16 Oktober 2010. “PTS di Yogyakarta Terus Menyusut” diakses dari http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/16/08160725/PTS.di.Yogyakarta.Terus.Menyusut
Narwaya, Guntur. 2009. Mimpi Pendidikan Untuk Semua, Makalah tidak dipublikasikan

Knowledge Management pada Program Studi Teknik Sipil

Oleh Rudi Waluyo Alumni T. Sipil Dosen Fakultas Teknik Universitas Palangka Raya

anakatma.id – Program Studi Teknik Sipil menjadi wadah yang berfungsi untuk membentuk mahasiswa dan sebagai penyedia layanan pendidikan tinggi. Tantangan yang semakin tinggi mengharuskan program studi Teknik Sipil mencari cara untuk mengatasinya. Knowledge management (KM) adalah konsep atau cara atau metode yang digunakan organisasi dalam mengelola pengetahuan yang dimiliki. Dengan dukungan konsep ini, organisasi menjadi lebih inovatif dalam menjalankan rutinitas sehari-hari dan mengantisipasi perkembagan yang ada. Tahapan-tahapan knowledge management di Program Studi Teknik Sipil dapat menjadi panduan dalam pengelolaan knowledge di organisasi untuk aktivitas sehari-hari dan mengantisipasi perkembangan yang ada.

Perguruan tinggi mempunyai tugas pokok yaitu melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Adapun tugas-tugas yang dilaksanakan adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat dan penunjang. Program Studi Teknik Sipil sebagai salah satu bagian dalam perguruan tinggi menjadi ujung tombak dalam mempersiapkan lulusan yang berkualitas. Selain itu program studi teknik sipil harus memiliki kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Program Studi Teknik Sipil menjadi wadah yang berfungsi mengubah mahasiswa dari yang hanya memiliki pengetahuan dasar menjadi seseorang yang memiliki pengetahuan khusus di bidang teknik sipil dan hal ini sangat dibutuhkan industri konstruksi.

Selain itu, saat ini dunia pendidikan tinggi telah memasuki era baru, di mana pendidikan sudah menjadi suatu bentuk industri yang penuh persaingan. Program studi teknik sipil sebagai salah satu penyedia layanan pendidikan dituntut memiliki perspektif pemasaran da lam menjalankan fungsinya. Tuntutan yang semakin tinggi akan sumber daya manusia yang berkualitas memacu program studi teknik sipil untuk meningkatkan daya saingnya.

Dengan tantangan yang semakin besar, program studi teknik sipil dituntut mampu menemukan cara atau metode sehingga masalah-masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik. Untuk menemukan cara atau metode baru maka inovasi-inovasi harus dilakukan. Inovasi tidak harus selalu semuanya baru tetapi mengembangkan cara atau metode yang lama sehingga mampu menyelesaikan masalah juga merupakan inovasi.

Knowledge management adalah konsep atau cara atau metode yang digunakan organisasi dalam mengelola pengetahuan yang dimiliki. Dengan knowledge management maka pengetahuan tidak hanya dimiliki secara personal tetapi juga dimiliki organisasi. Dengan knowledge management ini diharapkan kemampuan organisasi dalam berinovasi menjadi meningkat. Knowledge management yang dimiliki setiap organisasi pasti berbeda-beda, hal ini disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan organisasi.

Knowledge management pada Program Studi Teknik Sipil masih merupakan hal yang baru dan hal ini diterapkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Oleh karena itu, paper ini bertujuan untuk mengetahui penerapan knowledge management pada Program Studi Teknik Sipil.

Knowledge

Knowledge merupakan informasi terstruktur, yang mengungkap keterkaitan, wawasan dan generalisasi yang tidak dimiliki informasi sederhana (Muluk, 2008). Atau dengan kata lain knowledge merupakan informasi yang dilengkapi dengan pemahaman pola hubungan dari informasi disertai dengan pengalaman baik individu maupun kelompok (Widayana, 2005).

Setiap organisasi pasti memiliki knowledge. Namun, pada kenyataannya knowledge tersebut sering tidak digunakan secara maksimal, karena organisasi tidak memiliki sistem untuk mengelola knowledge tersebut. Untuk dapat mengelola knowledge maka harus dipahami dulu jenis knowledge yang ada. Knowledge secara umum dibagi menjadi dua jenis, yaitu: tacit knowledge dan explicit knowledge.

Tacit Knowledge

Tacit knowledge adalah knowledge yang sebagian besar berada dalam organisasi. Tacit knowledge merupakan sesuatu yang kita ketahui dan kita alami, namun sulit untuk diung kapkan secara jelas dan lengkap. Tacit knowledge sangat sulit dipindahkan kepada orang lain, karena knowledge tersebut tersimpan pada masing-masing pikiran (otak) para individu dalam organisasi sesuai kompetensinya (Widayana, 2005).

Tacit knowledge merupakan knowledge yang diam di dalam benak manusia dalam bentuk intuisi, judgement, skill, values dan belief yang sangat sulit diformulasikan dan dibagi dengan orang lain (Tobing, 2007). Tacit knowledge atau pengetahuan tacit disebut sebagai pengetahuan terbatinkan, terletak dalam benak manusia, bersifat sangat personal dan sulit dirumuskan sehingga membuatnya sulit untuk dikomunikasikan dan disampaikan pada orang lain. Perasaan pribadi, intuisi, bahasa tubuh, pengalaman fisik, petunjuk praktis (rules of thumb) termasuk dalam jenis tacit knowledge (Sangkala, 2007; Munir, 2008). Dari berbagai kajian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada tiga letak tacit knowledge, yaitu: personal (pikiran manusia), organisasi, dan eksternal organisasi.

Explicit Knowledge

Explicit knowledge adalah pengetahuan dan pengalaman tentang melakukan suatu pekerjaan yang diuraikan secara lugas dan sistematis (Widayana, 2005). Explicit knowledge adalah sesuatu yang dapat diekspresikan dengan kata-kata dan angka, serta dapat disampaikan dalam bentuk ilmiah, spesifikasi, manual dan sebagainya. Knowledge jenis ini dapat segera diteruskan dari satu individu ke individu lainnya secara formal dan sistematis (Yuliazmi, 2005).

Explicit knowledge adalah knowledge yang dapat atau sudah terkodifikasi dalam bentuk dokumen atau bentuk berwujud lainnya sehingga dapat dengan mudah ditransfer dan didistribusikan dengan menggunakan media. Explicit knowledge dapat berupa formula, kaset, cd video dan audio, spesifikasi produk atau modul (Tobing, 2007). Explicit knowledge atau pengetahuan eksplisit, dapat diekspresikan dalam kata-kata dan angka, serta dapat disampaikan dalam bentuk formula ilmiah, spesifikasi, prosedur operasi standar, bagan, manual-manual, dan sebagainya (Sangkala, 2007; Munir, 2008).

Dari berbagai kajian di atas dapat disimpulkan bahwa explicit knowledge memiliki empat komponen utama, yaitu: berwujud, berbentuk angka dan kata-kata, bisa berupa metode atau cara melakukan sesuatu, dan bisa diformulasikan dan disampaikan dengan orang lain.

Gambar 1. Perbedaan Tacit dan Explicit Knowledge. Sumber: Waluyo (2014)

Gambar 2. Persamaan Tacit dan Explicit Knowledge. Sumber: Waluyo (2014)

Model Konversi Knowledge

Untuk memadukan tacit dan explicit knowledge dalam berbagai tingkatan membutuhkan sistem dan mekanisme yang diciptakan KM. Perpaduan itu bermuara menjadi knowledge yang explicit. Konversi knowledge oleh Nonaka & Takeuchi (1995) memudahkan organisasi untuk mengubah knowledge yang bersifat tacit menjadi explicit. Konversi knowledge ini melalui empat proses, yaitu: sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang konversi knowledge dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Model Konversi Knowledge Sumber: Diolah dari (Nonaka dan Takeuchi, 1995 cit Tobing, 2007)

Model konversi knowledge pada Gambar 3. dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sosialisasi

Sosialisasi adalah pengubahan (konversi) dari tacit knowledge ke tacit knowledge diubah melalui interaksi antarindividu dan dengan proses berbagi (sharing). Dengan proses ini seseorang bisa memperoleh tacit knowledge tanpa harus dengan bahasa. Bentuk pemagangan yang dilakukan oleh seseorang karyawan yang dibantu oleh penasehatnya dan belajar dari seorang ahli tidak perlu melalui penggunaan bahasa, tetapi dengan melakukan observasi, peniruan, dan latihan.

Di dalam kegiatan bisnis, prinsip-prinsip tersebut biasanya dilakukan dalam bentuk on the job training (OJT). Kunci untuk mendapatkan tacit knowledge yaitu dengan pengalaman, tanpa melalui cara berbagi pengalaman akan sulit bagi orang yang memiliki tacit knowledge tersebut ditransfer ke orang lain. Hal ini sangat terkait dengan adanya unsur-unsur emosional dan konteks maupun nuansa (Tobing, 2007; Sangkala, 2007; Zuhal, 2010).

Eksternalisasi

Eksternalisasi adalah proses pengubahan atau konversi dari tacit knowledge ke explicit knowledge melalui proses dialog, diskusi kelompok dan refleksi sehingga terformulasi konsep-konsep ilmiah praktis yang diperlukan perusahaan (Tobing, 2007; Sangkala, 2007; Zuhal, 2010).

Kombinasi

Kombinasi adalah pengubahan atau konversi explicit knowledge ke explicit knowledge sehingga menjadi lebih diperbarui melalui proses pengkombinasian beragam explicit knowledge yang dimiliki seseorang. Seseorang mempertukarkan dan mengkombinasikan knowledge melalui semacam suatu mekanisme pertukaran seperti pertemuan dan percakapan melalui telepon. Rekonfigurasi informasi yang ada tersebut selanjutnya disortir, ditambahkan, dikategorisasi, dan dikontekstualisasikan kembali menjadi knowledge baru (Sangkala, 2007; Zuhal, 2010).

Internalisasi

Internalisasi adalah konversi dari explicit knowledge ke tacit knowledge di mana kegiatan ini mirip dengan yang telah sering dilakukan untuk mendapatkan knowledge yaitu melalui kegiatan belajar (learning by doing) (Sangkala, 2007; Zuhal, 2010). Sedangkan Tobing (2007) menyatakan, internalisasi (internalization) merupakan proses pembelajaran dan akuisisi knowledge yang dilakukan anggota organisasi terhadap explicit knowledge yang disebarkan keseluruh organisasi melalui pengalaman sendiri sehingga menjadi tacit knowledge anggota organisasi.

Knowledge Management

Menurut Hendrik (2003), knowledge management adalah merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan data dan informasi yang telah digabung dengan berbagai bentuk pemikiran dan analisa dari macam-macam sumber yang kompeten. Katsoulakos & Zevgolis (2004) menyatakan, knowledge management adalah tentang perlindungan terhadap pengembangan dan eksploitasi aset knowledge.

Sedangkan Muggenhuber (2006) menyatakan, knowledge management adalah suatu cara atau teknik yang digunakan secara sistematis untuk pengumpulan, transfer, keamanan, dan manajemen informasi di dalam organisasi. Pernyataan di atas diperkuat Ellitan & Anatan (2009) yang menyatakan, knowledge management merupakan proses sistematis untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan, dan menyajikan informasi dengan cara tertentu sehingga karyawan mampu memanfaatkan dan meningkatkan penguasaan knowledge dalam suatu bidang kajian yang spesifik, untuk selanjutnya mampu menginstitusionalkan knowledge yang dimiliki menjadi knowledge organisasi.

Selain itu, KM merupakan sebuah proses yang mentransformasikan knowledge individu menjadi knowledge organisasi (Rasula et al., 2012). Sedangkan Thakur & Sinha (2013) lebih tegas menyatakan bahwa KM adalah suatu proses yang tertib untuk membangkitkan, memperoleh, menghasilkan, mempelajari, mengalokasikan, dan menggunakan knowledge dan memahaminya untuk mencapai tujuan.

Dalam implementasinya di organisasi atau perusahaan, KM memiliki tingkatan tertentu dalam pengelolaannya, yaitu: menjaga dan melindungi, memperkuat dan mengembangkan yang ada, proses yang dilakukan lebih tersistem, dan proses telah sistematis dan diselaraskan dengan tujuan organisasi. Hal ini diperkuat Grundstein (2008) yang menyatakan, dalam KM ada tingkatan yang berbeda-beda dalam penerapannya.

Knowledge Management di Program Studi Teknik Sipil

Penerapan knowledge management di program studi teknik sipil melalui beberapa tahapan yang harus dilakukan.

Tahap Pertama

Tahap pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi letak dan jenis knowledge yang ada di program studi teknik sipil. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa knowledge dimiliki secara individu dan organisasi. Secara individu, knowledge dimiliki oleh dosen, staf program studi, staf laboratorium, ketua dan sekretaris program studi, koordinator tugas akhir dan kerja praktik. Sedangkan knowledge yang dimiliki organisasi ada pada program studi teknik sipil dan laboratorium. Selain itu knowledge yang sudah diidentifikasi ada yang berupa tacit maupun explicit.

Tahap Kedua

Untuk menggali knowledge lebih mendalam maka pada tahap kedua ini dilakukan wawancara semi terstruktur terhadap ketua dan sekretaris program studi, koordinator kerja praktik dan tugas akhir, kepala laboratorium. Selain itu juga dengan mengumpulkan data, informasi dan knowledge yang ada di tingkat program studi teknik sipil dan laboratorium.

Tahap Ketiga

Pada tahap ketiga ini, knowledge yang sudah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan diberi kategori selanjutnya membaginya dalam tingkatan-tingkatan tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan program studi teknik sipil.

Proses ini melibatkan pengembangan self report survey, untuk mencari pengukuran level /tingkatan dari keahlian yang dimiliki masing-masing anggota program studi teknik sipil untuk kepentingan pengelompokkan bidang knowledge. Ada dua hal penting yang dilakukan pada tahap ini. Pertama setiap individu mendapat kesempatan untuk melaporkan level knowledge-nya dalam konteks bidang dari knowledge. Kedua adalah berkaitan dengan validitas data maka perlu validity check untuk meyakinkan bahwa yang telah diukur memang benar telah diukur.

Tahap Keempat

Pada tahap keempat ini menyesuaikan knowledge dan skill yang dibutuhkan program studi teknik sipil dan industri konstruksi dengan dasar knowledge dan skill yang ada. Jadi tahap terakhir pada proses knowledge management ini memberikan manfaat ke dalam program studi teknik sipil tentang bidang dasar knowledge dan skill yang dibutuhkan. Selain itu dapat mengetahui perkembangan dan knowledge yang dibutuhkan industri konstruksi.

Keempat tahap di atas dalam proses  knowledge management akan banyak membantu dalam hal knowledge sharing. Setiap anggota program studi teknik sipil akan mengetahui informasi yang berguna dan dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, penelitian, pengabdian dan penunjang. Tahap-tahap penerapan knowledge management di program studi teknik sipil dapat dilihat pada Gambar 4.

Kesimpulan

Konsep knowledge management telah banyak digunakan di dalam bisnis, tetapi sedikit yang mengetahui bahwa knowledge management sangat menguntungkan bagi lembaga pendidikan.  Knowledge management dapat menjadi keuntungan jangka pendek dan jangka panjang. Paper ini mengembangkan tahapan-tahapan knowledge management yang dapat diterapkan pada program studi teknik sipil. Tahapan-tahapan yang dilakukan akan memandu dalam penerapan knowledge management.

Gambar 4. Tahap-tahap Penerapan Knowledge Management  di Program Studi Teknik Sipil

Knowledge yang dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari akan dapat dengan mudah diperoleh. Selain itu, knowledge untuk pengembangan dapat membantu program studi teknik sipil dalam mengantisipasi tantangan yang akan datang. Knowledge management dapat digunakan untuk membantu dalam pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang ada di Program Studi Teknik Sipil.

 

Daftar Pustaka

Ellitan, L., dan Anatan, L., 2009. Manajemen Inovasi Transformasi Menuju Organisasi Kelas Dunia, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Grundstein, M. 2008. Assessing Enterprise’s Knowledge Management Maturity Level, International Journal Knowledge and Sharing, Vol.4, No.5, pp.415-426.

Hendrik, 2003. Sekilas tentang Knowledge Management, Artikel Populer Ilmu Komputer.com, pp.1-7.

Katsoulakos, P and Zevgolis, D., 2004. Knowledge Management Review, @ K- Net 2004, pp.1-16.

Muggenhuber, G, 2006. Knowledge Management as a useful tool for implementing projects, The FIG Workshop on eGovernance, Budapest, Hungary, pp.215-222.

Muluk, M.R.K., 2008, Knowledge Management Kunci Sukses Inovasi dan Pemerintahan Daerah, Bayu Media Bekerja Sama Dengan Lembaga Penerbitan dan Dokumentasi FIA dan Unibraw, Malang.

Munir, N., 2008. Knowledge Management Audit, Pedoman Evaluasi Kesiapan Organisasi Mengelola Pengetahuan, Penerbit PPM, Jakarta.

Rašula, J., Vukšic, V.B., and Štemberger, M.I., 2012. The impact of knowledge Management on organizational Performance, Economic And Business Review, Vol. 14, No.2, pp. 147–168.

Sangkala, 2007. Knowledge Management, Suatu Pengantar Memahami Bagaimana Organisasi Mengelola Pengetahuan Sehingga Menjadi Organisasi Yang Unggul, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Thakur, V., and Sinha, S., 2013., Knowledge Management in an Indian Perspective, The SIJ Transactions on Industrial, Financial & Business Management (IFBM), Vol. 1, No. 1, pp.7-12.

Tobing, P.L., 2007. Knowledge Management: Konsep, Arsitektur dan Implementasi, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Waluyo, R., 2014. Model Hubungan Antara Culture, Knowledge Management Dan Performance Di Perusahaan Konstruksi, Disertasi, Program Doktor Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang.

Widayana, L., 2005. Knowledge Management Meningkatkan Daya Saing Bisnis, Bayumedia Publishing, Malang.

Universitas Katolik?

Oleh Yudho Raharjo Alumni FISIP 1997

anakatma.id – Ingatan tentang diskusi yang digelar setelah sepekan pemutaran film yang disutradarai Garin Nugroho masih melekat di kepala Ridwan Haryadi, Kindarto Dan Boti serta Fp Hapsara, yang hadir di diskusi yang digelar sekitar bulan Februari atau Maret 1998 itu, dua atau tiga bulan menjelang Soeharto tumbang setelah 32 tahun berkuasa.

Diskusi digelar di kampus I UAJY yang terletak di Mrican Baru. Selain Garin Nugroho yang juga hadir menjadi pembicara untuk membahas film-filmnya, juga hadir seorang romo, arsitek, dan juga novelis. Dia adalah Y. B. Mangunwijaya (Romo Mangun). Di area parkir, romo sempat tersesat. Vespa yang dia kendarai justru memasuki pelataran parkir mobil. Petugas satpam yang mengenali romo segera memberitahu jika dia harus keluar kembali ke jalan raya sebelum memasuki area parkir sepeda motor.

Setelah berlangsung lebih dari satu jam, diskusi memanas. Pancingan yang dikemukakan Romo Mangun tepat sasaran. Dia bilang kalau salah satu film karya Garin yang menjadi favoritnya adalah Bulan Tertusuk Ilalang. “Film karya Garin yang menjadi favorit saya adalah Bulan Tertusuk Ilalang disingkat BTI,” kata Romo.

Kami bertiga tertawa terbahak-bahak. Meski kami adalah alumni terakhir penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang digelar pada Agustus 1997 sebelum resmi menjadi mahasiswa, kami juga tahu kalau singkatan BTI dalam alam pikiran Orde Baru adalah Buruh Tani Indonesia. Sebuah organisasi massa yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Diskusi tambah memanas, salah seorang peserta bertanya; “Apa yang harus kami lakukan jika nanti Soeharto benar-benar tumbang?” Romo Mangun menjawab: “Jangan tanya saya, saya sudah tua. Tugas kalian yang muda-muda untuk menjawab. Dulu Bung Karno, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir tidak pernah bertanya kepada generasi yang lebih tua dari mereka apa yang akan dilakukan setelah Indonesia merdeka.”

Nada bicara romo naik, suaranya kian meninggi, dia mengatakan menjadi tugas anakanak muda, terutama mereka yang terdidik termasuk mahasiswa di kampus-kampus untuk memikirkan Indonesia ke depan. Romo juga sempat mengatakan sangat aneh jika pembangunan sebuah bangsa seperti Indonesia dipercayakan kepada seorang tentara. Tugas tentara menurutnya adalah berperang dan membunuh musuh di pertempuran, bukan membangun.

“Jadi tugas mahasiswa untuk mengingatkan, termasuk mahasiswa yang kuliah di universitas-universitas Katolik. Tapi saya nggak tahu Atma Jaya ini universitas Katolik atau bukan,” ujarnya.

Kami kembali tertawa terbahak-bahak. Tak ada yang lebih indah dari seorang romo yang mempertanyakan apakah Atma Jaya benar-benar unversitas Katolik?

Setelah diskusi berakhir, kami tak berhenti mencari jawab atas pertanyaan romo.***

Nama Tanya

Oleh Severianus Endi,  FISIP Komunikasi 1997

anakatma.id – Saya angkatan 1997 di Program Studi Ilmu Komunikasi. Saya pendatang baru di Pulau Jawa. Sebagai orang Dayak asli Kalimantan, saya belum banyak mengerti bahasa Jawa.

Suatu hari pada pertemuan perdana mata kuliah yang diampu seorang dosen dari kampus sebelah, dosen yang pinter melucu itu membaca nama-mana mahasiswa di daftar presensi. Tiba pada nama saya, dia diam sejenak.

Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berseru: “Endi…” (huruf E seperti E pada tElur).

Mendengar itu, beberapa teman tertawa. Pak dosen bernama Teguh Dalyono mengulangi dengan nada bertanya: “Ndi…?”

Dengan kikuk saya mengacung sambil tersenyum pahit. Perasaan rada gak enak nih. Pak dosen dengan ekspresi tetap datar berkomentar: “Ooo, kamu ya yang namanya Ndi? Jeneng kok takon…” (Ind: Nama kok nanya…)

Suara tertawa riuh mengiringi wajahku yang terasa menebal beberapa sentimeter. Masih dengan tanpa ekspresi, Pak Dosen yang “kejam” itu bertanya: “Kowe seko ndi to?” dengan nada penekanan pada kada ndi.

Lagi-lagi terdengar suara tawa di sekitarku. Seorang teman yang baik hati menerjemahkan pertanyaan itu padaku sambil berbisik: “Beliau tanya, kamu dari mana?”

“Saya dari Kalimantan, Pak.” “Ooo, pantes….”

***

Masa-masa awal saya di Yogya, memang seakan semua orang sudah

mengenalku. Di gang-gang yang saya lalui, atau di selasar kampus, kerap terdengar namaku disebut. Neng ndi, Mas? Lha, ndi kowe wingi? Ndi to cah e? Dan ndi-ndi yang lain!

Di kampungku di Kalimantan, memang begitulah orang-orang menyapaku. Di Tanah Jawa Dwipa yang agung ini, awalnya aku selalu menoleh kepada asal suara, apalagi kalau yang menyebutkannya cah wedhok ayu. Gedhe roso? Pasti! Tetapi langsung kecewa ketika mereka menyebutkan ‘Ndi’ tanpa sama sekali menoleh ke arahku. Argghhh!!!

Dalam masa-masa awal, persoalan boso Jowo ini cukup menjadi perhatian kami, kaum pendatang. Saya lebih tertarik untuk mempelajarinya sehingga bisa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Eit, bukan modus supaya bisa memboyong “kamus berjalan” pulang ke kampung saya lho ya.

Saya punya teman akrab sesama perantau dari luar pulau, tetapi bukan dari Kalimantan. Sama seperti saya, dia juga belum banyak mengerti Bahasa Jawa.

Di sebuah perkuliahan yang lain, dosen sering melontarkan joke-joke dalam Bahasa Jawa, untuk mencairkan suasana. Kami yang belum mengerti, terpaksa mengeryitkan dahi, atau ikut-ikutan tertawa atau minimal senyum garing karena tidak mengerti.

Serta merta teman saya ini protes: “Pake Bahasa Indonesia dong, Pak!”

Begitu keluar kelas, saya bilang pada teman itu agar jangan protes. Karena di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Atau peribahasa yang maknanya kurang lebih sama berbunyi: masuk kandang ayam berkokok, masuk kandang babi menguik.

Dengan santainya dia memotong: Iya, nanti kau malah jadi babi… *Saya langsung nguyah tembok*

Kadang, jika baru sepatah dua patah kata mulai dikuasai, terbit keinginan untuk pamer kepada sesama perantau dari luar Jawa. Baru beberapa minggu di Yogya, ketika berjumpa teman seperantauan, langsung berucap: “Piro kabare?” Sudah salah, keras lagi! Tetapi, yang begini tidak termasuk saya, hehehe.

Selama di Yogya, saya tinggal di rumah “mewah” alias mengitari sawah. Suatu sore, saya dan beberapa teman mendatangi seorang bapak tua pemilik sawah dengan maksud bersosialisasi. *serius*

Pak Tua berbicara kepada kami dalam Bahasa Jawa Kromo sambil ngebul-ngebul klobot. Bahasa ngoko saja kami belum kuasai, apalagi kromo. Kami hanya bisa manggut-manggut sambil sesekali menjawah: “Inggih, Pak, inggih…”

Setelah berpamitan (dengan Bahasa Indonesia!) dan setelah agak jauh dari sawah, kami saling bertanya, apa gerangan yang tadi dibicarakan pak tua dan kompak kami jawab inggih? Ndilalah, tak seorang pun dari kami yang tahu! Setelah saling berpandangan, kami ngakak sejadi-jadinya.

Bagaimana kalau misalnya pak tua tadi menanyakan: “Kalian dari mana?” dan dijawab “Inggih”. ***